Showing posts with label Agama Islam. Show all posts
Showing posts with label Agama Islam. Show all posts

Pengertian dan Contoh Perilaku Kerja Keras, Tekun, Ulet, dan Teliti


Pengertian dan Contoh Perilaku Kerja Keras, Tekun, Ulet, dan Teliti
A. Kerja Keras
1. Pengertian dan Contoh Kerja Keras
Kerja keras dapat diartikan melakukan sesuatu dengan sungguhsungguh
untuk mencapai sesuatu yang diinginkan atau dicita-citakan.
Kerja keras dapat dilakukan dalam segala hal, mungkin dalam bekerja
mencari rezeki, menuntut ilmu, berkreasi, membantu orang lain, atau
kegiatan yang lain.
Bekerja keras merupakan salah satu ajaran Islam yang harus dibiasakan
oleh umatnya. Islam menganjurkan umatnya agar selalu bekerja keras
untuk mencapai keinginan dan cita-cita. Hal ini sebagaimana ditegaskan
dalam firman Allah Swt. yang memiliki arti berikut.
Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan
Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu
di dunia
secara tegas mengingatkan bahwa
kita dilarang hanya mementingkan
kehidupan akhirat, dan
melupakan kehidupan dunia.
Islam mengajarkan agar manusia
menjaga keseimbangan antara
urusan dunia dan urusan akhirat.
Bekerja untuk dunia harus seimbang
dengan beribadah untuk
akhirat. Khusus untuk meraih
kesuksesan dalam kehidupan
dunia, syaratnya harus dilakukan
dengan usaha dan kerja keras.
Bekerja keras telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan para
sahabat. Rasulullah saw. bekerja keras dengan cara berdagang untuk
membantu perekonomian Abu Talib. Usman bin Affan bekerja keras
hingga menjadi pengusaha yang sukses. Contoh lain dapat ditemukan
dalam sebuah hadis yang mengisahkan bahwa ada seorang sahabat yang
ingin meninggalkan urusan dunia agar lebih khusyuk beribadah. Sahabat
tersebut berniat terus-menerus berpuasa dan beribadah sepanjang hari.
Mendengar berita tersebut, Rasulullah bersabda bahwa orang-orang yang
meninggalkan dunia dan lebih mengutamakan urusan akhirat, bukan
termasuk golongannya.
Hadis lain yang menunjukkan pentingnya bekerja keras, seperti
diriwayatkan oleh Imam Baihaqi bahwa Rasulullah pernah bersabda yang
artinya ”Berbuatlah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya
dan berbuatlah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok hari.”
Dalam riwayat Imam Bukhari dijelaskan bahwa Rasulullah juga
pernah mengingatkan para sahabat agar tidak mencari jalan termudah
dalam bekerja, misalnya dengan cara meminta-minta. Orang yang ketika
di dunia memilih bekerja mencari rezeki dengan cara meminta-minta,
pada hari akhir akan dibalas dengan meminta-minta panasnya api neraka.
Contoh lain dari kerja keras dapat ditemukan dalam uraian berikut.
Ali duduk di kelas VII Sekolah Menengah Pertama di daerahnya. Sebagai seorang
pelajar Ali selalu rajin belajar. Malam hari ia belajar dan siang hari sepulang
sekolah ia mengerjakan tugas yang diberikan guru. Sisa waktu yang dimilikinya
dipergunakan untuk membantu kedua orang tuanya yang berjualan dan belajar
Al-Qur’an di masjid. Tidak ada sedikit pun waktu yang dibiarkannya berlalu
tanpa sesuatu yang bermanfaat.
2. Keutamaan Kerja Keras
Bekerja keras sangat penting untuk dilakukan. Di antara alasan
pentingnya bekerja keras adalah hal-hal sebagai berikut.
a. Menunjukkan telah mengoptimalkan potensi dirinya. Manusia telah
dikaruniai akal, rasa, dan karsa sehingga harus menjaga harkat dan
martabat dirinya.
b. Seseorang dapat mengubah nasib dirinya agar menjadi lebih baik.
Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib
suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang mengubahnya.
c. Menunjukkan sikap tanggung jawab dengan memenuhi kebutuhan
dirinya sendiri.
d. Dapat hidup mandiri sehingga tidak menjadi beban orang lain.
e. Turut serta dalam memajukan lingkungan sekitar dan negara.
f. Menunjukkan persiapan agar dapat menggapai kesuksesan pada hari
esok. Pekerja keras selalu melakukan perencanaan dan usaha keras
dalam hidupnya. Meskipun hasilnya tidak dapat ia petik langsung,
tetap dapat dimanfaatkan untuk generasi sesudahnya.
Dengan berbagai keutamaan dari kerja keras, menunjukkan sifat ini
sangat penting untuk dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan
bekerja keras kita akan dapat memperoleh kesuksesan hidup di dunia
dan akhirat.
3. Bekerja Keras dalam Keseharian
Sikap kerja keras harus diwujudkan dalam kehidupan nyata. Caranya
dengan menjalankan sesuatu secara sungguh-sungguh, istiqamah, dan
tidak mudah menyerah. Bekerja keras harus dilakukan, meskipun
memulainya dari hal-hal yang kecil dan terbatas. Sikap kerja keras dapat
dilakukan dalam berbagai lingkungan, misalnya keluarga, sekolah,
maupun masyarakat. Bekerja keras dalam lingkungan keluarga dapat
dilakukan dengan cara berikut.
a. Bekerja dengan sungguh-sungguh di rumah untuk membantu orang
tua.
b. Memanfaatkan waktu luang
untuk belajar.
c. Tidak membuang waktu untuk
melakukan sesuatu yang tidak
berguna.
d. Membelanjakan uang dengan
hati-hati dan gemar menabung.
e. Berhemat dalam segala hal,
misalnya dalam penggunaan
energi, seperti listrik, gas,
bahan bakar minyak, dan air.
Bekerja keras juga harus dilakukan dalam lingkungan sekolah dengan
cara sebagai berikut.
a. Giat dan bersemangat dalam belajar.
b. Bersikap aktif dalam belajar, misalnya bertanya kepada guru tentang
materi yang akan dipahami.
c. Tidak mudah putus asa dalam mengerjakan tugas yang diberikan
guru.
d. Tidak tergantung kepada orang lain dalam mengerjakan tugas-tugas
sekolah.
e. Rajin mengikuti kegiatan ekstrakurikuler untuk meningkatkan prestasi
diri.
Bekerja keras dalam lingkungan masyarakat dapat dilakukan dengan
cara sebagai berikut.
a. Ikut serta dalam kegiatan masyarakat, seperti siskamling dan kerja
bakti.
b. Turut serta dalam menjaga ketertiban dalam bermasyarakat.
c. Menjaga lingkungan agar tetap bersih dan asri.
d. Bersikap ramah tamah, peduli, dan suka menolong terhadap
masyarakat sekitar.
e. Bersikap rendah hati dan tidak angkuh dalam setiap kesempatan.

B. Tekun Ulet
1. Pengertian dan Contoh Tekun serta Ulet
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tekun diartikan dengan rajin,
keras hati, atau bersungguh-sungguh. Orang yang bersifat tekun
ditunjukkan dengan kesungguhan dalam berusaha dan tetap bersemangat
dalam menjalankan segala sesuatu. Jika menghadapi rintangan yang
menghadang, orang yang tekun dan tidak mudah menyerah.
Ulet diartikan dengan kuat atau tidak mudah putus asa. Orang yang
bersifat ulet berarti tidak mudah menyerah meskipun banyak hambatan
yang harus dihadapi. Keyakinan bahwa usaha yang dilakukan akan
menuai hasil dan tidak sia-sia, selalu dimiliki oleh orang yang ulet.
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa antara sifat tekun dan ulet
memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya harus
ditunjukkan dengan sikap sungguh-sungguh dan tidak mudah menyerah.
Ketekunan dan keuletan merupakan salah satu syarat yang harus dimiliki
oleh seseorang untuk meraih kesuksesan dalam hidup. Jika kerja keras,
ketekunan, dan keuletan yang telah kita lakukan, ternyata belum
membuahkan hasil yang memuaskan, tetap bersabar. Kita tidak boleh
menyerah dan putus asa.
Dalam Al-Qur’an Allah secara tegas membenci orang-orang yang
mudah menyerah dan putus asa.
Sikap putus asa dalam menjalankan sesuatu bukan jalan keluar yang
baik. Sesungguhnya kesulitan apa pun dapat diselesaikan secara baik,
asalkan disertai usaha keras dan ketekunan.
Berbeda dengan orang yang bersikap putus asa, ia akan menghentikan
persoalannya dan tidak terselesaikan. Bahkan, ia dianggap sebagai orang
yang tidak yakin pada kekuasaan dan kebesaran Allah sehingga
digolongkan sebagai kaum kafir. Contoh perilaku tekun dan ulet dapat
ditemukan dalam uraian berikut. Fatima duduk di bangku Sekolah Menengah
Pertama. Ia memiliki kelebihan dalam pelajaran bahasa Indonesia tetapi lemah
dalam pelajaran matematika. Fatima tidak mau menyerah pada keadaan. Fatima
belajar dengan sungguh-sungguh dan mengikuti les matematika. Berkat
ketekunan dan keuletannya, nilai Fatima pada semester ini meningkat.
2. Keutamaan Tekun dan Ulet
Ketekunan dan keuletan dapat dilakukan dalam berbagai aktivitas,
misalnya dalam belajar dan bekerja. Kedua sifat ini juga mengandung
keutamaan-keutamaan tertentu, antara lain sebagai berikut.
a. Menjadi orang yang disukai oleh Allah. Dalam salah satu hadis
riwayat Imam Bukhari dan Muslim dijelaskan bahwa amalan yang
disukai oleh Allah adalah yang dilakukan secara rajin.
b. Memiliki perencanaan yang matang dalam menjalankan sesuatu.
c. Pekerjaan menjadi cepat selesai sehingga tidak membuang waktu.
d. Bersikap disiplin dalam menyelesaikan sesuatu. Dengan kedisiplinan,
orang yang tekun memiliki target dan tujuan dalam menjalankan
sesuatu.
e. Tidak mudah bergantung pada orang lain. Orang yang tekun dan
ulet dapat menyelesaikan urusannya tanpa bergantung kepada orang
lain.
f. Bersikap optimis dalam menjalani
hidup. Orang yang tekun
dan ulet memiliki kepercayaan
diri dalam menjalankan sesuatu,
tidak mudah menyerah.
Ketekunan juga merupakan
ajaran agama yang sangat penting
untuk kita biasakan. Bahkan, dalam
beribadah kita juga dianjurkan
untuk bersifat sederhana dan tidak
berlebihan. Kita tidak dianjurkan
untuk berlebihan dalam beribadah
sehingga melupakan urusan yang
lain. Kita dianjurkan untuk beribadah
secara tekun, meskipun
berupa amalan yang sederhana.
3. Bersikap Tekun dan Ulet dalam Keseharian
Sikap tekun dan ulet merupakan syarat utama untuk meraih
kesuksesan dalam hidup. Sikap tekun dan ulet dalam lingkungan keluarga
dapat dilakukan dengan cara berikut.
a. Menyelesaikan pekerjaan rumah yang menjadi tugas rutin.
b. Berusaha menyelesaikan pekerjaan rumah yang menjadi tugasnya
sendiri, tanpa tergantung kepada orang lain.
c. Menjalankan semua kegiatan di rumah dengan cermat, misalnya
dengan membagi waktu untuk belajar, membantu orang tua, dan
kegiatan lain.
Dalam lingkungan sekolah, tekun dan ulet dapat dilakukan dengan
cara berikut.
a. Menjalankan peraturan sekolah dengan tertib.
b. Menyelesaikan tugas sekolah dengan sempurna.
c. Mendengarkan nasihat dan mematuhi perintah guru.
Dalam lingkungan masyarakat, tekun dan ulet dapat dilakukan
dengan cara sebagai berikut.
a. Turut serta secara aktif dalam kegiatan yang berlangsung di tengah
masyarakat.
b. Menjaga ketertiban dan ketenangan di lingkungan sekitar.
c. Bersikap peduli dan gemar menolong orang lain di lingkungan sekitar.

C. Teliti
1. Pengertian dan Contoh Teliti
Teliti berarti cermat dan saksama dalam menjalankan sesuatu. Orang
yang teliti ditunjukkan dengan cermat, penuh minat, dan berhati-hati
dalam menjalankan sesuatu agar tidak terjadi kesalahan. Lawan dari sifat
teliti dan tekun adalah ceroboh atau teledor.
mengerjakan sesuatu. Termasuk dalam berbicara, kita tidak boleh ceroboh,
tetapi harus cermat. Hal ini sebagaimana diingatkan dalam Surah
al-H.
ujurat [49] ayat 6 yang artinya, ”Wahai orang-orang yang beriman! Jika
seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah
kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan
(kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Syarat di atas memberi pesan kepada kita untuk selalu bersikap teliti
dan hati-hati, termasuk dalam berucap. Sikap ceroboh dan teledor hanya
menjadikan sesuatu tidak selesai dengan sempurna.
2. Keutamaan Teliti
Sifat teliti sangat penting dalam hidup karena mengandung beberapa
manfaat sebagai berikut.
a. Terhindar dari kesalahan atau kekeliruan dalam melakukan sesuatu.
b. Terhindar dari sifat suuzan atau buruk sangka terhadap orang lain.
Orang yang teliti, ketika menghadapi kegagalan tidak cepat-cepat
menyalahkan orang lain.
c. Meningkatkan kesempurnaan setiap pekerjaan. Orang yang teliti tidak
suka menyelesaikan pekerjaan dengan setengah-setengah.
d. Terhindar dari penyesalan akibat kegagalan yang disebabkan
ketergesa-gesaan.
3. Bersikap Teliti dalam Keseharian
Sikap teliti secara umum dapat diwujudkan ketika berkata dan
mengerjakan sesuatu. Teliti dalam berbicara atau berkata, caranya antara
lain sebagai berikut.
a. Tidak berbicara yang dapat menyinggung orang lain.
b. Menyampaikan informasi yang kebenarannya tidak diragukan lagi.
c. Tidak berlebihan dalam berbicara.
d. Tidak menuruti hawa nafsu ketika berbicara.
e. Istiqamah dan tidak munafik.
Bersikap teliti dalam mengerjakan sesuatu antara lain ditunjukkan
dengan cara-cara sebagai berikut.
a. Konsentrasi ketika bekerja.
b. Menyelesaikan segala urusan dengan tuntas.
c. Berhati-hati dan tidak tergesa-gesa.
d. Memiliki rencana matang dan prinsip yang baik dalam bekerja.
e. Mendahulukan pekerjaan yang lebih penting daripada yang tidak
perlu.

Pengertian dan Contoh Teliti


Pengertian, Contoh, Keutamaan, Artikel, Makalah, dan Manfaat Teliti
1. Pengertian dan Contoh Teliti
Teliti berarti cermat dan saksama dalam menjalankan sesuatu. Orang
yang teliti ditunjukkan dengan cermat, penuh minat, dan berhati-hati
dalam menjalankan sesuatu agar tidak terjadi kesalahan. Lawan dari sifat
teliti dan tekun adalah ceroboh atau teledor.
mengerjakan sesuatu. Termasuk dalam berbicara, kita tidak boleh ceroboh,
tetapi harus cermat. Hal ini sebagaimana diingatkan dalam Surah
al-H.
ujurat [49] ayat 6 yang artinya, ”Wahai orang-orang yang beriman! Jika
seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah
kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan
(kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Syarat di atas memberi pesan kepada kita untuk selalu bersikap teliti
dan hati-hati, termasuk dalam berucap. Sikap ceroboh dan teledor hanya
menjadikan sesuatu tidak selesai dengan sempurna.
2. Keutamaan Teliti
Sifat teliti sangat penting dalam hidup karena mengandung beberapa
manfaat sebagai berikut.
a. Terhindar dari kesalahan atau kekeliruan dalam melakukan sesuatu.
b. Terhindar dari sifat suuzan atau buruk sangka terhadap orang lain.
Orang yang teliti, ketika menghadapi kegagalan tidak cepat-cepat
menyalahkan orang lain.
c. Meningkatkan kesempurnaan setiap pekerjaan. Orang yang teliti tidak
suka menyelesaikan pekerjaan dengan setengah-setengah.
d. Terhindar dari penyesalan akibat kegagalan yang disebabkan
ketergesa-gesaan.
3. Bersikap Teliti dalam Keseharian
Sikap teliti secara umum dapat diwujudkan ketika berkata dan
mengerjakan sesuatu. Teliti dalam berbicara atau berkata, caranya antara
lain sebagai berikut.
a. Tidak berbicara yang dapat menyinggung orang lain.
b. Menyampaikan informasi yang kebenarannya tidak diragukan lagi.
c. Tidak berlebihan dalam berbicara.
d. Tidak menuruti hawa nafsu ketika berbicara.
e. Istiqamah dan tidak munafik.
Bersikap teliti dalam mengerjakan sesuatu antara lain ditunjukkan
dengan cara-cara sebagai berikut.
a. Konsentrasi ketika bekerja.
b. Menyelesaikan segala urusan dengan tuntas.
c. Berhati-hati dan tidak tergesa-gesa.
d. Memiliki rencana matang dan prinsip yang baik dalam bekerja.
e. Mendahulukan pekerjaan yang lebih penting daripada yang tidak
perlu.

Pengertian dan Contoh Kerja Keras


Pengertian, Contoh, Keutamaan, Artikel, Makalah, dan Manfaat Kerja Keras
1. Pengertian dan Contoh Kerja Keras
Kerja keras dapat diartikan melakukan sesuatu dengan sungguhsungguh
untuk mencapai sesuatu yang diinginkan atau dicita-citakan.
Kerja keras dapat dilakukan dalam segala hal, mungkin dalam bekerja
mencari rezeki, menuntut ilmu, berkreasi, membantu orang lain, atau
kegiatan yang lain.
Bekerja keras merupakan salah satu ajaran Islam yang harus dibiasakan
oleh umatnya. Islam menganjurkan umatnya agar selalu bekerja keras
untuk mencapai keinginan dan cita-cita. Hal ini sebagaimana ditegaskan
dalam firman Allah Swt. yang memiliki arti berikut.
Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan
Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu
di dunia
secara tegas mengingatkan bahwa
kita dilarang hanya mementingkan
kehidupan akhirat, dan
melupakan kehidupan dunia.
Islam mengajarkan agar manusia
menjaga keseimbangan antara
urusan dunia dan urusan akhirat.
Bekerja untuk dunia harus seimbang
dengan beribadah untuk
akhirat. Khusus untuk meraih
kesuksesan dalam kehidupan
dunia, syaratnya harus dilakukan
dengan usaha dan kerja keras.
Bekerja keras telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan para
sahabat. Rasulullah saw. bekerja keras dengan cara berdagang untuk
membantu perekonomian Abu Talib. Usman bin Affan bekerja keras
hingga menjadi pengusaha yang sukses. Contoh lain dapat ditemukan
dalam sebuah hadis yang mengisahkan bahwa ada seorang sahabat yang
ingin meninggalkan urusan dunia agar lebih khusyuk beribadah. Sahabat
tersebut berniat terus-menerus berpuasa dan beribadah sepanjang hari.
Mendengar berita tersebut, Rasulullah bersabda bahwa orang-orang yang
meninggalkan dunia dan lebih mengutamakan urusan akhirat, bukan
termasuk golongannya.
Hadis lain yang menunjukkan pentingnya bekerja keras, seperti
diriwayatkan oleh Imam Baihaqi bahwa Rasulullah pernah bersabda yang
artinya ”Berbuatlah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya
dan berbuatlah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok hari.”
Dalam riwayat Imam Bukhari dijelaskan bahwa Rasulullah juga
pernah mengingatkan para sahabat agar tidak mencari jalan termudah
dalam bekerja, misalnya dengan cara meminta-minta. Orang yang ketika
di dunia memilih bekerja mencari rezeki dengan cara meminta-minta,
pada hari akhir akan dibalas dengan meminta-minta panasnya api neraka.
Contoh lain dari kerja keras dapat ditemukan dalam uraian berikut.
Ali duduk di kelas VII Sekolah Menengah Pertama di daerahnya. Sebagai seorang
pelajar Ali selalu rajin belajar. Malam hari ia belajar dan siang hari sepulang
sekolah ia mengerjakan tugas yang diberikan guru. Sisa waktu yang dimilikinya
dipergunakan untuk membantu kedua orang tuanya yang berjualan dan belajar
Al-Qur’an di masjid. Tidak ada sedikit pun waktu yang dibiarkannya berlalu
tanpa sesuatu yang bermanfaat.
2. Keutamaan Kerja Keras
Bekerja keras sangat penting untuk dilakukan. Di antara alasan
pentingnya bekerja keras adalah hal-hal sebagai berikut.
a. Menunjukkan telah mengoptimalkan potensi dirinya. Manusia telah
dikaruniai akal, rasa, dan karsa sehingga harus menjaga harkat dan
martabat dirinya.
b. Seseorang dapat mengubah nasib dirinya agar menjadi lebih baik.
Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib
suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang mengubahnya.
c. Menunjukkan sikap tanggung jawab dengan memenuhi kebutuhan
dirinya sendiri.
d. Dapat hidup mandiri sehingga tidak menjadi beban orang lain.
e. Turut serta dalam memajukan lingkungan sekitar dan negara.
f. Menunjukkan persiapan agar dapat menggapai kesuksesan pada hari
esok. Pekerja keras selalu melakukan perencanaan dan usaha keras
dalam hidupnya. Meskipun hasilnya tidak dapat ia petik langsung,
tetap dapat dimanfaatkan untuk generasi sesudahnya.
Dengan berbagai keutamaan dari kerja keras, menunjukkan sifat ini
sangat penting untuk dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan
bekerja keras kita akan dapat memperoleh kesuksesan hidup di dunia
dan akhirat.
3. Bekerja Keras dalam Keseharian
Sikap kerja keras harus diwujudkan dalam kehidupan nyata. Caranya
dengan menjalankan sesuatu secara sungguh-sungguh, istiqamah, dan
tidak mudah menyerah. Bekerja keras harus dilakukan, meskipun
memulainya dari hal-hal yang kecil dan terbatas. Sikap kerja keras dapat
dilakukan dalam berbagai lingkungan, misalnya keluarga, sekolah,
maupun masyarakat. Bekerja keras dalam lingkungan keluarga dapat
dilakukan dengan cara berikut.
a. Bekerja dengan sungguh-sungguh di rumah untuk membantu orang
tua.
b. Memanfaatkan waktu luang
untuk belajar.
c. Tidak membuang waktu untuk
melakukan sesuatu yang tidak
berguna.
d. Membelanjakan uang dengan
hati-hati dan gemar menabung.
e. Berhemat dalam segala hal,
misalnya dalam penggunaan
energi, seperti listrik, gas,
bahan bakar minyak, dan air.
Bekerja keras juga harus dilakukan dalam lingkungan sekolah dengan
cara sebagai berikut.
a. Giat dan bersemangat dalam belajar.
b. Bersikap aktif dalam belajar, misalnya bertanya kepada guru tentang
materi yang akan dipahami.
c. Tidak mudah putus asa dalam mengerjakan tugas yang diberikan
guru.
d. Tidak tergantung kepada orang lain dalam mengerjakan tugas-tugas
sekolah.
e. Rajin mengikuti kegiatan ekstrakurikuler untuk meningkatkan prestasi
diri.
Bekerja keras dalam lingkungan masyarakat dapat dilakukan dengan
cara sebagai berikut.
a. Ikut serta dalam kegiatan masyarakat, seperti siskamling dan kerja
bakti.
b. Turut serta dalam menjaga ketertiban dalam bermasyarakat.
c. Menjaga lingkungan agar tetap bersih dan asri.
d. Bersikap ramah tamah, peduli, dan suka menolong terhadap
masyarakat sekitar.
e. Bersikap rendah hati dan tidak angkuh dalam setiap kesempatan.

Rukun, Sunah, dan Hal-Hal yang Membatalkan Shalat


Rukun Shalat, Sunah Shalat, dan Hal-Hal yang Membatalkan Shalat
1. Rukun Salat
Rukun salat merupakan segala yang harus dilakukan dalam salat.
Jika ada yang ditinggalkan, salatnya tidak sah. Hal-hal yang termasuk
rukun salat sebagai berikut.
a. Niat.
b. Berdiri bagi yang mampu (jika tidak mampu berdiri, boleh duduk
atau berbaring).
c. Takbiratul ihram, yaitu membaca ”Alla-hu akbar”.
d. Membaca Surah al-Fatihah [1].
e. Rukuk dengan tumakninah (diam sejenak).
f. Iktidal dengan tumakninah (diam sejenak).
g. Sujud dengan tumakninah (diam sejenak).
h. Duduk antara dua sujud dengan tumakninah (diam sejenak).
i. Duduk tahiyat akhir (duduk pada rakaat terakhir sebelum salam).
j. Membaca tahiyat akhir.
k. Mengucapkan salam yang pertama.
l. Tertib, artinya teratur dan berurutan.

2. Sunah Salat
Sunah salat adalah sesuatu yang lebih utama dilakukan, tetapi jika
ditinggalkan tidak menjadikan salat itu batal. Hal-hal yang termasuk sunah
salat sebagai berikut.
a. Mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram.
b. Menghubungkan takbir makmum dengan takbir imam.
c. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri pada saat kedua tangan
diletakkan di dada.
d. Memandang ke tempat sujud.
e. Membaca doa iftitah sesudah takbi-ratul ih.ra-m sebelum membaca Surah al-Fatihah [1].
f. Bertaawuz sebelum membaca Surah al-Fatihah [1] dan surah pilihan.
g. Mengucapkan ”amin” setelah membaca Surah al-Fatihah [1].
h. Berdiam diri sebentar bagi imam antara akhir bacaan Surah al-Fatihah [1] dengan membaca surah pilihan.
i. Membuka kedua kaki sekitar satu jengkal ketika berdiri.
j. Membaca surah atau ayat sesudah membaca Surah al-Fatihah [1].
k. Mengucapkan takbir pada saat rukuk, sujud, bangkit, dan ketika berdiri.
l. Bertasmi‘ (mengucap sami‘alla-hu liman h.
amidah) oleh imam dan
bertahmid (mengucapkan rabbana wa lakal h.amdu) oleh makmum.
m. Mendahulukan meletakkan kedua lutut, kemudian kedua tangan, lalu
muka ketika hendak sujud.
n. Berdoa ketika duduk antara dua sujud.
o. Duduk iftirasy pada semua duduk salat.
p. Duduk tawaruk pada tasyahud akhir.
q. Berdoa sesudah membaca selawat kepada Nabi saw.
r. Menoleh ke kanan kemudian ke kiri dengan dua salam.
s. Mengucap salam kedua.
3. Hal-Hal yang Membatalkan Salat
Salat yang dapat diterima oleh Allah adalah salat yang sah. Artinya
dilakukan dengan baik menurut aturan yang telah Allah tetapkan.
Sebaliknya, Allah tidak akan menerima salat yang batal. Salat kita dapat
batal apabila melakukan salah satu dari hal-hal berikut ini.
a. Sengaja berbicara saat salat.
b. Sengaja banyak bergerak ketika salat. Sebagian ulama menyebut tiga
gerakan di luar salat, sebagian ulama yang lain berpendapat banyak
bergerak adalah jika seseorang bergerak sehingga orang yang
melihatnya mengira tidak sedang salat.
c. Sengaja membiarkan terbuka atau membuka aurat saat salat.
d. Sengaja berubah niat dalam salat.
e. Sengaja membelakangi kiblat.
f. Sengaja makan atau minum dalam salat.
g. Tertawa hingga terdengar suaranya. Tersenyum dalam salat tidak
membatalkan salat.
h. Terkena najis.
i. Keluar hadas besar atau hadas kecil.
j. Sengaja meninggalkan salah satu rukun salat.

Macam-Macam dan Waktu Pelaksanaan Shalat Wajib


Macam-Macam dan Waktu Pelaksanaan Salat Wajib/Fardhu
Dalam Islam dikenal dua tingkatan salat, yaitu salat wajib atau salat
fardu dan salat sunat. Salat wajib adalah salat yang harus didirikan oleh
setiap muslim yang telah memenuhi syarat dan tidak terhalang oleh
halangan syar’i untuk melaksanakannya. Hukum wajib ini menyebabkan
salat fardu tersebut tidak boleh ditinggalkan. Meninggalkan salat fardu
menyebabkan seseorang berdosa besar. Bahkan, jika sampai tingkatan
menolak salat wajib, dapat menyebabkan seseorang kafir dari agama
Allah. Adapun salat sunah adalah salat yang dianjurkan untuk dilaksanakan
oleh kaum muslimin. Sifat sunah menyebabkan pelaksananya
mendapatkan pahala dan tidak berdosa jika meninggalkannya.
Salat wajib terdiri atas lima salat. Setiap salat tersebut dilaksanakan
pada waktu yang berbeda. Ragam salat dan waktunya adalah sebagai
berikut.
Dalam ketentuan waktu tersebut terdapat beberapa waktu yang kita
tidak boleh melaksanakan salat. Waktu-waktu tersebut adalah saat
matahari dalam proses terbit, saat matahari tepat berada di atas kita hingga
tergelincir ke arah barat, dan saat matahari dalam proses tenggelam.
Dalam ketiga waktu tersebut kita tidak boleh melaksanakan salat apapun.

Pengertian, Jenis, dan Contoh Hewan Haram


Pengertian, Jenis, dan Contoh Hewan Haram menurut Islam
Umat Islam dapat mengetahui tentang haramnya suatu
binatang melalui dua hal, yaitu:
1. Melalui dalil umum, yaitu dalil yang hanya menyebut sifat
binatang, sehingga haram untuk dikonsumsi oleh umat Islam.
Ada tiga jenis binatang yang haram berdasarkan dalil
umum karena memiliki sifat yang dikhawatirkan sangat
mudah beralih pada diri manusia. Ketiga jenis sifat binatang
tersebut adalah:
a. Memiliki sifat buas karena bertaring, seperti : harimau,
macan tutul, anjing hutan, dan beruang.
b. Setiap binatang yang berkuku tajam, seperti : burung
rajawali, burung elang, burung kaka tua, dan burung
hantu.
c. Setiap binatang pemakan kotoran, seperti: lalat.
2. Melalui dalil khusus yaitu, dalil yang langsung menyebut
haramnya jenis binatang tertentu. Ada tujuh jenis binatang
yang haram dimakan oleh umat Islam karena masing-masing
disebut oleh dalil yang melarangnya. Ketujuh binatang itu
adalah:
a. Daging Babi
b. Khimar atau keledai jinak
c. Dilarang membunuh, seperti : burung suradi, katak,
semut, dan burung hud-hud.
d. Disuruh membunuhnya, seperti : burung gagak, burung
elang, kalajengking, anjing liar
e. Karena kotor, seperti : tungau, kutu, kecoa, dan sejenisnya.
f. Katak
g. Binatang yang tidak jelas hukumnya antara halal dan
haram (syubhat)
Terhadap jenis binatang seperti ini, umat Islam dapat
meneliti berdasarkan sebab tersebut. Kalau ada kesamaan
sebab dihalalkan atau diharamkan, maka mengikuti sebab
tersebut. Namun kalau tidak adanya sebab tertentu, dapat
dikembalikan kepada hukum asal, yaitu mubah.

Pengertian, Jenis, dan Contoh Hewan Halal


Pengertian, Jenis, Ciri-Ciri, Artikel, Macam-Macam, dan Contoh Hewan/Binatang Halal Menurut Agama Islam
Hewan yang halal untuk dimakan, maksudnya kita diperbolehkan
makan hewan-hewan tersebut, jika kita makan kita tidak
dosa.
Secara umum hewan halal dapat dikelompokkan menjadi 2
yaitu:
1. Hewan Halal Berdasarkan Dalil Umum
Berdasarkan dalil umum hewan halal meliputi ;
a. Binatang ternak darat, seperti: kambing, domba, kerbau, sapi,
dan onta.
b. Binatang buruan laut, yaitu semua jenis binatang yang hidup
di air, termasuk di danau maupun di sungai. Semuanya adalah
halal bagi umat Islam.
Kehalalan semua jenis binatang laut mencakup juga semua
bangkai ikan laut.
Mengapa jenis binatang laut termasuk bangkainya halal bagi
umat Islam? Karena air laut adalah air yang suci sehingga berpengaruh
terhadap semua jenis binatang yang hidup didalamnya.
Nabi Muhammad saw.
2. Hewan Halal Berdasarkan Dalil Khusus
Hewan halal berdasarkan dalil khusus maksudnya dalil
tersebut langsung menyebut jenis hewan yang dimaksud. Adapun
hewan-hewan tersebut adalah:
a. Kuda
b. Keledai Liar
c. Dab (Binatangnya Mirip Biawak)
d. Kelinci
e. Ayam
f. Belalang

Artikel Pengertian Munafik


1. Pengertian
Munafik yaitu seseorang yang menampakkan sesuatu yang
bertentangan dengan apa yang ada didalam hati. Perbuatan
munafik disebut nifaq. Orang munafik bentuk pribadi mendua atau
bermuka dua, jika ia berada di kelompoknya A, dia mengaku ikut
bergabung dengan A, menyanjung-nyanjung A dan menjelekjelekkan
B. Tetapi kalau sedang ada di kelompok B, ia juga berbuat
seperti pada waktu di kelompok A, ia menyanjung kelompok B dan
menjelekkan kelompok A. Oleh karena itu orang munafik sering
disebut orang yang bermuka dua.
2. Ciri-ciri Orang Munafik
Ciri-ciri orang munafik ada 3 yaitu:
a. Jika berbicara dusta.
Orang munafik kalau berbicara cenderung berbohong atau
dusta dan ini akan dilakukan terus-menerus karena dusta yang
sekarang untuk menutupi dusta yang kemarin dan dustanya
hari ini akan ditutup dengan dusta yang besok dan seterusnya.
b. Jika berjanji ingkar.
Orang munafik sering mengobral janji, tetapi janji tersebut sering
diingkari dengan berbagai alasan untuk membenarkan dirinya.
c. Jika dipercaya khianat.
Orang munafik jika dipercaya atau diberi tanggung jawab
justru ia akan menyalahgunakan kepercayaan tersebut.
Ciri-ciri orang munafik tersebut sesuai yang disabdakan oleh
Rasulullah saw.
3. Menghindari sifat munafik.
Munafik adalah perbuatan dosa, haram hukumnya dilakukan
oleh orang Islam. Oleh karena itu sifat munafik harus kita hindari
dengan cara-cara berikut:
a. Memperbanyak mengaji dan mendengarkan ceramahceramah
agama sehingga kefahaman tentang agama akan
meningkat, bahwa munafik itu perbuatan dosa yang dilarang
oleh agama dan diancam akan dimasukkan dalam neraka.
b. Menjaga lisan.
Dalam berbicara hendaknya yang baik tidak macam-macam
dan berbicara dengan benar atau tidak dusta.
c. Tidak mudah membuat janji.
Jika terpaksa harus berjanji dengan orang lain hendaknya
didahului kata Insya Allah dan janji tersebut juga harus benarbenar
ditepati.
d. Memegang amanat dengan baik.
Jika diberi kepercayaan maka kepercayaan tersebut kita pegang
sungguh-sungguh. Jangan malah disalah gunakan.

Artikel Pengertian Dendam


1. Pengertian Dendam
Dendam adalah sifat ingin membalas perbuatan seseorang.
Sifat dendam merupakan perbuatan yang tercela dan biasanya sifat
dendam ini bersumber dari sifat marah atau sifat kurang puas
melihat segala hal yang terjadi. Perbuatan mendendam sangat
dibenci oleh Allah swt. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad
saw. sebagai berikut:
2. Ciri-ciri Pendendam
Ada beberapa ciri orang yang mempunyai sifat pendendam
antara lain :
a. Tidak senang jika melihat orang lain senang. Orang
pendendam hatinya akan sedih, gelisah, dan iri jika orang lain
mendapat kenikmatan.
b. Merasa senang jika orang lain menderita. Sebaliknya orang
pendendam hatinya akan senang dan gembira bila orang lain
menderita, tidak mau menolong malah mengejeknya.
c. Selalu membalas kesalahan dan kejelekan orang lain. Orang
pendendam, jika orang lain melakukan kesalahaan maka akan
diungkit-ungkit dan terus dibicarakan dengan orang lain.
Kejelekan orang lain selalu dibicarakan, sementara mereka
sendiri kadang lebih jelek daripada orang tersebut.
d. Suka memfitnah orang lain. Pendendam biasanya suka
memfitnah orang lain menjelek-jelekkan orang dimata orang
lain, padahal orang tersebut tidak melakukan kejelekan seperti
yang disampaikan oleh orang yang pendendam tersebut.
e. Suka membuka rahasia orang lain. Orang pendendam
biasanya tidak bisa menyimpan rahasia, justru kalau mengerti
rahasia orang lain akan diceritakan ke orang lain lagi.
3. Akibat negatif pendendam
Ada dua akibat yang ditimbulkan oleh orang pendendam, yaitu
akibat untuk diri sendiri dan akibat negatif bagi orang lain.
a. Bagi diri sendiri
1) Hidupnya tidak pernah merasa tenang
2) kehidupannya tersiksa oleh perasaan sendiri
3) Mudah terserang penyakit tekanan darah tinggi dan jantung.
4) Banyak dibenci orang.
b. Bagi orang lain
1) Kehidupan orang lain terasa kurang nyaman.
2) Terkurangi haknya untuk bersahabat dengan siapapun.
3) Dapat mengundang sifat permusuhan orang lain.
4. Menghindari dari perilaku pendendam
Sifat pendendam merupakan sifat yang tidak baik dan dibenci
Allah swt. Oleh karena itu, sifat tersebut harus kita hindari dengan
melakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Selalu mendekatkan diri pada Allah swt. dengan cara
memperbanyak ibadah, zikir. dan doa sehingga hati kita
tenang.
b. Menjadi orang pemaaf. Apabila orang lain melakukan
kesalahaan terhadap diri kita dan sudah meminta maaf maka
sebaiknya juga kita memaafkan, sehingga tidak timbul rasa
dendam di dalam hati kita.
c. Tidak membicarakan kejelekan orang lain.
d. Tidak memfitnah orang lain.
e. Jika kita mengetahui rahasia orang lain maka sebaiknya
disimpan saja, tidak usah diceritakan ke orang lain lagi.
f. Silaturahmi, yaitu mengunjungi saudara atau orang lain untuk
menyambung persaudaraan.

Adab Makan dan Minum dalam Agama Islam


Setiap hari selama hidup, kita selalu melakukan kegiatan
makan dan minum. Makan dan minum memberikan kita tenaga
dan kekuatan yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan.
Karena dilakukan setiap hari, maka kebanyakan dari kita kemudian
tidak terlalu memperdulikan adab makan dan minum yang benar.
Makan dan minum sesungguhnya bukan hanya persoalan memindahkan
makanan dari piring ke dalam perut. Makan dan
minum, apabila dilakukan dengan benar, juga merupakan bentuk
ibadah dan tanda syukur kita kepada Allah swt.
Agama Islam merupakan agama yang diturunkan untuk
kebaikan umat manusia. Segala hal yang berkaitan dengan
kehidupan manusia dibahas di dalamnya, tidak terkecuali untuk
permasalahan makan dan minum. Agama Islam mengajarkan tata
krama yang harus kita patuhi dalam melakukan makan dan
minum. Tahukah kamu apa saja adab makan dan minum yang
diajarkan oleh Islam?
Berikut ini merupakan adab makan dan minum yang
diajarkan oleh agama Islam.
1. Berdoa Sebelum Makan dan Minum
Jika kita akan memulai suatu aktifitas, sangat dianjurkan untuk
memulainya dengan mengucapkan doa terlebih dahulu. Doa ini kita
maksudkan untuk meminta bimbingan, petunjuk, dan perlindungan
dari Allah swt. Tak terkecuali dalam kegiatan makan dan minum.
adab makan dan minum
Artinya: “Ya Allah berkahkan kepada kami rizki yang telah Engkau
berikan kepada kami dan jauhkan kami dari api neraka.”
2. Mencuci Tangan
Sebelum makan hendaknya kita mencuci tangan terlebih
dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kebersihan dan
kesehatan karena besar kemungkinan tangan kita masih kotor dan
mengandung kuman. Islam mengajarkan kita untuk selalu
menjaga kebersihan. Islam bahkan dengan jelas mengatakan
bahwa kebersihan merupakan sebagian dari iman.
3. Makan dengan Menggunakan Tangan Kanan dan
Mengambil Makanan yang Terdekat Dahulu
Rasul mengajarkan pada kita agar ketika makan hendaknya
menggunakan tangan kanan, bukannya tangan kiri. Hal ini dikarenakan
syaitan ketika makan selalu menggunakan tangan kirinya.
Dan berusahalah untuk mengambil makanan yang terdekat terlebih
dahulu. Apabila makanan yang disukai berada di lokasi yang jauh,
dekatkan makanan itu terlebih dahulu, baru kita ambil.
4. Jika Sebelum Makan Lupa Berdoa, Maka Bacalah
Basmallah di Tengah-tengah Saat Kita Makan
Rasulullah saw. bersabda: yang artinya “Jika salah seorang
dari kamu makan, sebutlah dulu nama Allah. Maka jika lupa tidak
membaca pada awalnya, hendaknya membaca sewaktu ingat
ditengah-tengah makan.” (H.R. Abu Dawud)
5. Jangan Mencela Makanan
Jika kita sedang tidak selera makan atau tidak suka pada
makanan yang disajikan, janganlah mencela makanan tersebut.
Akan lebih baik apabila kita diam dan tidak memakan makanan
tersebut. Pada hakekatnya rezeki adalah pemberian dari Allah swt.,
sehingga apabila kita mencela makanan sama halnya kita mencela
rezeki yang diberikan oleh Allah swt. kepada kita.
6. Habiskan makanan yang disajikan
Ketika makan, hendaknya seluruh makanan yang disajikan
harus kita habiskan. Jangan sampai ada yang tersisa karena
makanan itu mengandung berkah. Karena tidak tahu di bagian
mana berkah itu berada, maka kita harus menghabiskan seluruh
makanan itu agar mendapatkan berkah.
7. Jangan menghabiskan minuman dalam sekali
teguk
Rasulullah saw. mengajarkan bahwa ketika minum hendaknya
kita tidak menghabiskannya dalam sekali teguk. Usahakan kita
menengguk minuman 2 atau tegukan 3 sebelum menghabiskannya.
8. Tidak meniup makanan yang panas
Seringkali ketika makan, makanan yang disajikan masih
dalam keadaan panas mengepul. Malah ada beberapa orang yang
hanya mau makan apabila nasi atau makanan masih tersaji dalam
keadaan panas. Islam mengajarkan untuk tidak meniup makanan
yang masih panas. Tunggulah beberapa saat hingga makanan itu
agak dingin baru kemudian kita makan.
9. Jangan Makan atau Minum Sambil Berdiri atau
Jalan
Agama Islam mengajarkan untuk menghormati makanan
dengan memakannya dalam keadaan duduk dan tidak bergerak.
Makan dan minum sambil berjalan atau berdiri akan menghilangkan
keberkahan yang berada dalam makanan tersebut.
10. Mengakhiri Acara Makan dengan Berdoa
Apabila sebelum makan kita diajarkan untuk berdoa, maka
ketika selesai makan pun harus kita akhiri dengan berdoa juga.

sifat wajib, sifat mustahil, dan sifat jaiz rasul Allah


Pengertian Fatanah, Siddiq, Amanah, dan Tablig
Pengertian Baladah, Kizib, Khianat, Kitman
Sifat Wajib, Mustahil, dan Sifat Rasul
Tugas rasul sangatlah berat, sehingga Allah swt. mengangkat
rasul pada orang-orang yang benar-benar dipilih oleh Allah yang
mempunyai sifat-sifat yang baik dan istimewa. Secara umum sifat
rasul dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu sifat wajib, sifat
mustahil, dan sifat jaiz.
1. Sifat wajib
Sifat wajib adalah sifat yang pasti dimiliki oleh para rasul. Sifat
wajib rasul ada 4 yaitu.:
a. Fatanah, artinya cerdas.
Maksudnya adalah rasul wajib bersifat cerdas. Hal ini
disebabkan karena tugas rasul adalah membina umat, yang
berbagai macam watak dan tingkah lakunya. Seorang rasul harus
dapat menguasai umatnya, ia harus mengetahui teknik pendekatan
yang tepat, ia harus tanggap terhadap situasi di sekelilingnya. Hanya
orang yang cerdas yang dapat mengatasi segala macam persoalan
di masyarakat.
b. Siddiq, artinya benar.
Seorang rasul wajib bersifat benar, baik dalam perkataan
maupun perbuatan.
c. Amanah artinya terpercaya.
Rasul wajib dan pasti memiliki sifat amanah atau terpercaya.
Jika sifat amanah ini tidak dimiliki oleh rasul, maka tugasnya yang
sangat berat sebagai rasul tidak mungkin dapat terlaksana.
d. Tablig, artinya menyampaikan
Wajib bagi rasul memiliki sifat tablig atau menyampaikan.
Tidak mungkin seorang rasul dapat menyebarkan wahyu yang ia
terima tanpa disampaikan kepada umatnya. Jadi yang dimaksud
menyampaikan adalah menyampaikan perintah-perintah dan
larangan-larangan Allah dan tidak menyembunyikan sedikit pun
wahyu yang ia terima dari Allah swt.
2. Sifat Mustahil
Sifat mustahil yaitu sifat yang tidak mungkin dimiliki oleh
seorang rasul. Ada 4 sifat mustahil bagi rasul, yaitu:
a. Baladah, artinya bodoh.
Mustahil bagi rasul bersifat bodoh, sebab orang yang bodoh
tidak mungkin dapat mengatur dan membimbing orang lain.
b. Kizib, artinya dusta
Mustahil atau tidak mungkin seorang rasul bersifat kizib atau
dusta, baik dalam perkataan, perbuatannya, maupun i'tikadnya.
c. Khianat, artinya curang
Mustahil rasul bersifat khianat. Tidak mungkin seorang rasul
bersifat curang atau ingkar janji terhadap tugas-tugas yang
diberikan oleh Allah swt.
d. Kitman, artinya menyembunyikan
Mustahil rasul bersifat menyembunyikan. Para rasul diberi
tugas untuk menyampaikan wahyu Allah swt. Apa yang diterimanya
dari Allah disampaikannya tanpa menambah atau mengurangi
atau menyembunyikannya.
3. Pengertian Sifat Jaiz bagi Rasul
Sebagai manusia, para rasul memiliki sifat-sifat yang pada
umumnya dimiliki oleh manusia. Sifat-sifat manusia tu adalah
makan, minum, lapar, haus, tidur, berumah tangga, dan sebagainya.
Namun Allah swt. telah menakdirkan bahwa sifat jaiz ini tidak
sampai merendahkan martabat kerasulannya.
class='blog-feeds'