Sistematika, Bagian, dan Contoh Surat Dinas/Resmi


Sistematika, Bagian, dan Contoh Surat Dinas/Resmi yang Benar


Surat merupakan media komunikasi tertulis antarperorangan, perusahaan,
atau instansi. Penulisan sebuah surat dinas memiliki format/bentuk dan
sistematika tertentu. Sebagai pelajar, kamu diharuskan mampu untuk membuat
surat dinas. Untuk itu, ikutilah pelajaran berikut ini!


1. Pengertian Surat Dinas

Surat dinas disebut juga surat resmi, yaitu surat yang dibuat seseorang,
lembaga, atau instansi yang ditujukan oleh pihak tertentu untuk urusan resmi.
Bahasa yang digunakan dalam surat dinas adalah baku, jelas, dan sesuai dengan
kaidah yang berlaku. Surat yang berkaitan dengan kegiatan atau urusan sekolah
termasuk dalam surat yang berjenis resmi atau dinas. Misalnya surat izin tidak
masuk sekolah, surat undangan, surat keterangan, dan sebagainya.


2. Sistematika Penulisan Surat Dinas

Penulisan surat dinas berbeda dengan teknik menulis surat pada umumnya.
Surat dinas harus mencantumkan komponen-komponen tertentu dan memiliki
bentuk tertentu pula. Apa saja komponen dalam surat surat dinas itu?
Komponen dalam penulisan surat dinas meliputi berikut ini.
a. Kop surat atau kepala surat.
b. Tempat dan tanggal pembuatan surat.
c. Perihal, nomor surat, dan lampiran.
d. Alamat surat.
e. Salam pembuka.
f. Isi surat, meliputi:
1) Salam pembuka isi,
2) Uraian yang mencakup inti surat,
3) Salam penutup isi.
g. Salam penutup.
h. Tanda tangan pembuat surat.
i. Nama terang.
j. Tembusan.
k. Stempel instansi.

3. Bagian-Bagian Surat Dinas

Di bawah ini adalah contoh surat dinas yang berkaitan dengan kegiatan
sekolah. Pahamilah bagian-bagiannya dan tulislah bagian-bagian tersebut.
Betulkanlah penulisannya jika terdapat kesalahan.


contoh surat dinas

pengertian dan jenis penokohan beserta contoh


Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan karakter tokoh-tokoh

dalam cerita.

Sementara tokoh adalah orang atau pelaku yang berperan dalam
cerita.


1) Teknik penggambaran tokoh


Untuk menggambarkan sifat atau karakter seorang tokoh, pengarang
menggunakan dua teknik. Kedua teknik tersebut adalah sebagai berikut.
a) Teknik analitik, yaitu karakter/sifat dari tokoh cerita diceritakan secara
langsung oleh pengarang.
Contoh:Erlina adalah seorang putri tunggal Sultan Pangeran. Erlina dikenal
orang-orang karena kecantikan parasnya. Rambutnya yang hitam lurus
serta kulit yang kuning langsat menambah keelokan tubuhnya. Banyak
pemuda mencoba mendekatinya, namun tanpa alasan yang jelas, ia
selalu menolaknya.
b) Teknik dramatik, yaitu karakter/sifat tokoh dikemukakan melalui
penggambaran tertentu, misalnya fisik dan perilaku tokoh, lingkungan
kehidupan, dialek bahasa, jalan pikiran, dan lewat gambaran tokoh lain.
Contoh:Berbeda dengan Ramli, sebenarnya Bahtiar bisa mengendalikan diri
dalam menghadapi masalah yang rumit. Malam itu Bahtiar dan Ramli

dikepung tentara kompeni. Beberapa saat lamanya, dalam ketegangan
yang memuncak itu Bahtiar menghamburkan pelurunya ke berbagai
jurusan.


2) Jenis penokohan


Berdasarkan peranannya dalam suatu cerita, tokoh dibedakan menjadi
tiga jenis. Jenis-jenis tokoh tersebut adalah protagonis, antagonis, dan
tritagonis.
a) Tokoh protagonis
Yaitu tokoh yang mendukung cerita. Biasanya ada satu atau dua figur
tokoh protagonis utama yang dibantu tokoh lain yang terlibat dalam cerita.
Tokoh jenis ini biasanya berwatak baik, dan menjadi idola pembaca/
pendengar.
b) Tokoh antagonis
Yaitu tokoh yang menjadi penentang cerita. Biasanya ada satu atau dua
figur tokoh yang menentang cerita. Tokoh jenis ini berwatak jahat,
menyebabkan konflik, dan dibenci oleh pembaca dan pendengar.
c) Tokoh tritagonis
Yaitu tokoh pembantu (penengah), baik untuk tokoh protagonis
maupun antagonis.
3) Cara menentukan watak dan sifat tokoh
Cara untuk menentukan watak tokoh adalah sebagai berikut.
a) Tentukan pelaku-pelaku cerpen, baik protagonis, antagonis, dan
tritagonis.
b) Pikirkan dan rasakan dengan cermat watak, perilaku, kebiasaan, dan
kondisi setiap pelaku.
c) Simpulkan watak tiap pelaku melalui dialog, sikap, pembawaan, dan
pola pikir dalam cerita.


faktor-faktor pendorong dan penghambat perubahan sosial


1. Faktor Pendorong Perubahan Sosial
Secara umum terjadinya perubahan sosial dalam
masyarakat dipengaruhi oleh faktor-faktor pendorong.
Faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Kontak dengan Budaya LainBerhubungan dengan budaya lain dapat pula mendorong munculnya perubahan sosial. Sebagaimana
dijelaskan sebelumnya bahwa bila dua kebudayaan
saling bertemu maka kedua kebudayaan tersebut akan
saling memengaruhi yang akhirnya membawa perubahan. Hubungan atau kontak dengan kebudayaan lain
dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu difusi,
akulturasi, asimilasi, dan akomodasi.

b. Sistem Pendidikan Formal yang MajuPendidikan formal dalam hal ini berarti pendidikan yang
ditempuh melalui jenjang-jenjang pendidikan seperti SD, SMP,
SMA, dan perguruan tinggi. Dengan pendidikan, kamu dapat
membuka pikiran serta menerima hal-hal baru. Selain itu, kamu
dapat membandingkan kebudayaan mana yang mampu memenuhi
kebutuhanmu serta kebudayaan mana yang tidak sesuai. Melalui
pengetahuan itu, mendorong individu mengadakan perubahan
untuk mencapai tujuan hidupnya.
c. Sikap Menghargai Hasil Karya Seseorang dan
Keinginan-Keinginan untuk Maju
Sikap tersebut merupakan salah satu sikap yang
mendorong munculnya penemuan-penemuan sosial
yang membawa perubahan sosial. Hal ini dikarenakan
jika hasil karya seseorang dihargai, maka seseorang
akan terpacu untuk menemukan sesuatu yang baru.
d. Sistem Terbuka dalam Lapisan-Lapisan MasyarakatSistem terbuka ini memungkinkan adanya gerak sosial
vertikal sehingga memberi kesempatan seseorang
untuk maju. Adanya kesempatan untuk menaiki
stratifikasi tinggi yang disediakan oleh sistem ini
mendorong seseorang melakukan perubahan menuju
ke arah yang lebih baik.
e. Penduduk yang HeterogenMasyarakat yang heterogen akan lebih mudah melakukan
perubahan. Contoh, masyarakat Indonesia yang memiliki
kebudayaan, ras, dan ideologi yang berbeda-beda. Masyarakat
tersebut akan sangat mudah mengalami pertentangan. Pertentangan-pertentangan yang terjadi tentunya dapat menimbulkan
keguncangan yang pada akhirnya mendorong terjadinya
perubahan dalam masyarakat.
f. Ketidakpuasan Masyarakat terhadap Bidang-Bidang Kehidupan
Tertentu
Adanya ketidakpuasan masyarakat terhadap suatu bidang tertentu,
mendorong masyarakat melakukan perubahan. Hal ini dapat
dilihat dari perubahan-perubahan yang terjadi di Indonesia.
Perubahan-perubahan ini timbul karena adanya ketidakpuasan
masyarakat terhadap cara kerja pemerintah.


Faktor Penghambat Perubahan SosialDalam perubahan sosial selain faktor pendorong terdapat
juga faktor penghambat terjadinya perubahan sosial. Faktorfaktor penghambat perubahan sosial antara lain:
a. Kurangnya Hubungan dengan Masyarakat LainKehidupan terasing menyebabkan sebuah masyarakat
tidak mengetahui perkembangan-perkembangan yang
terjadi di masyarakat lain. Mereka terkungkung dalam
tradisinya sendiri dan tidak mengalami perubahan.
Padahal kebudayaan lain dapat memperkaya kebudayaannya sendiri. Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa komunikasi merupakan kunci terjadinya
perubahan sosial budaya.
b. Sikap Masyarakat yang Sangat TradisionalMasyarakat tradisional biasanya bersikap mengagungagungkan tradisi dan masa lampau. Mereka beranggapan bahwa tradisi tersebut secara mutlak tidak dapat
diubah. Anggapan inilah yang menghambat adanya
proses perubahan sosial. Keadaan tersebut akan
menjadi lebih buruk apabila yang berkuasa dalam
masyarakat yang bersangkutan adalah golongan
konservatif.
c. Rasa Takut akan Terjadinya Kegoyahan pada Integrasi
Kebudayaan
Pada dasarnya semua unsur kebudayaan tidak mungkin
berintegrasi dengan sempurna. Namun demikian,
terdapat beberapa unsur tertentu memiliki derajat
integrasi yang tinggi. Keadaan inilah yang membuat
suatu masyarakat merasa khawatir dengan datangnya
unsur-unsur dari luar. Hal ini dikarenakan unsur-unsur tersebut
mampu menggoyahkan integrasi dan menyebabkan perubahanperubahan pada aspek-aspek tertentu di masyarakat.
d. Perkembangan Ilmu Pengetahuan yang TerlambatTerlambatnya perkembangan ilmu pengetahuan suatu masyarakat
dimungkinkan karena kehidupan masyarakat yang terasing dan
tertutup. Namun, dapat pula dikarenakan sebagai akibat dijajah
oleh masyarakat lain. Biasanya masyarakat yang dijajah dengan
sengaja dibiarkan terbelakang oleh masyarakat yang menjajah. Hal
ini dimaksudkan menjaga kemurnian masyarakat guna mencegah
terjadinya pemberontakan atau revolusi.
e. Adat atau KebiasaanAdat atau kebiasaan merupakan pola-pola perilaku bagi anggota
masyarakat dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokoknya.
Adat dan kebiasaan ini dapat berupa kepercayaan, sistem mata
pencaharian, pembuatan rumah, dan cara berpakaian tertentu.
Adat dan kebiasaan tersebut sudah menjadi bagian kehidupan
masyarakat sehingga sukar untuk diubah.

f. Prasangka terhadap Hal-Hal yang Baru atau Sikap yang
Tertutup
Sikap demikian dapat dijumpai pada masyarakat yang pernah
dijajah. Mereka selalu mencurigai sesuatu yang berasal dari negaranegara Barat. Secara kebetulan unsur-unsur baru kebanyakan
berasal dari negara-negara Barat. Sehingga segala sesuatu yang
berasal dari negara-negara Barat mendapat prasangka buruk oleh
masyarakat setempat.
g. Hambatan-Hambatan yang Bersifat IdeologisSetiap usaha mengadakan perubahan pada unsur-unsur
kebudayaan rohaniah biasanya diartikan sebagai usaha yang
berlawanan dengan ideologi. Di mana ideologi masyarakat
merupakan dasar integrasi masyarakat tersebut. Oleh karenanya,
perubahan sosial tidak terjadi.


cara penulisan daftar pustaka yang benar dan baku


Penulisan Daftar Pustaka yang Benar dan Baku

Daftar pustaka atau bibliografi yang berisi buku, makalah, artikel, atau
bahan lainnya mempunyai pertalian dengan sebuah tulisan atau sebagian
dari tulisan yang sedang dibuat. Melalui daftar pustaka, pembaca dapat
mengetahui keseluruhan sumber yang digunakan dalam tulisan yang
dibacanya sehingga dapat merujuk pada sumber asli
Unsur-unsur yang ditulis dalam daftar pustaka secara berturut-turut
meliputi: nama penulis, tahun penerbitan, judul tulisan, kota tempat
penerbitan, dan nama penerbit. Penulisan daftar pustaka, secara umum
adalah sebagai berikut.

1. Daftar Pustaka disusun secara alfabet (A,B,C,.....) berturut-turut dari
atas ke bawah tanpa menggunakan angka arab, tanda hubung, dan
semacamnya.
2. Cara penulisan sebuah sumber pustaka berturut-turut adalah sebagai
berikut.
a. Penulisan nama pengarang
Nama pengarang bagian belakang (nama akhir atau nama keluarga)
ditulis lebih dahulu, diikuti tanda koma baru nama bagian depan
kemudian diikuti titik. Jika buku disusun oleh sebuah komisi atau
lembaga, dipakai menggantikan nama pengarang. Jika tidak ada
nama pengarang, urutannya harus dimulai dengan judul buku.
b. Menuliskan tahun terbit buku, diikuti tanda titik
c. Menuliskan judul buku, diberi garis bawah atau ditulis dengan
huruf miring, diikuti tanda titik
d. Menuliskan tempat atau kota penerbitan, diikuti tanda titik dua.
e. Menuliskan nama penerbit dan diikuti tanda titik
3. Apabila digunakan dua sumber pustaka atau lebih yang sama
penulisnya, sumber ditulis dari buku yang lebih dulu terbit diikuti
buku yang terbit kemudian.
4. Bila tidak ada nama penulis, judul buku atau artikel yang dimasukkan
dalam urutan alfabet.
5. Jarak antara baris dan baris untuk satu referensi adalah satu spasi
tetapi jarak antara pokok dengan pokok adalah dua spasi.
6. Baris pertama dimulai dari margin kiri. Baris kedua dan seterusnya
dari tiap pokok harus dimasukkan ke dalam sebanyak empat ketukan
mesin tik.
7. Apabila sebuah referensi ditulis oleh lebih dari dua orang penulis, hanya
satu nama yang dicantumkan dalam da─×ar pustaka dengan susunan
nama terbalik. Untuk nama penulis lainnya disingkat dkk atau dll.
Selain ketentuan di atas, ada ketentuan-ketentuan khusus sebagai
berikut.

1. Sumber dari artikel dan buku artikel
Nama penulis artikel ditulis di depan diikuti dengan tahun
penerbitan. Judul artikel ditulis tanpa garis bawah atau huruf miring.
Nama editor ditulis seperti menulis nama biasa, diberi keterangan (ED)
atau (eds). Judul buku kumpulannya digaris bawahi atau ditulis dengan
huruf miring dan nomor halamannya disebutkan dalam kurung.

Contoh:
Atikah, H.Z. 1998. Karakteristik Penilaian Kualitatif, dalam Kurniasih
(ED).
Pengembangan Penilaian Kualitatif dalam Mata Pelajaran Bahasa dan
Sastra Indonesia
(hlm. 36-43). Bandung: PSBS Cabang Bandung.

2. Sumber dari artikel dalam jumlah
Nama judul (majalah ilmiah) ditulis dengan garis bawah atau huruf
miring. Bagian akhir berturut-turut ditulis jurnal tahun ke berapa dan
nomor dari halaman artikel tersebut.
Contoh:
Sunarti. 1994.
PAN dan PAP dalam Penilaian Keberhasilan Belajar Semiotika,
(02);13- 22.

3. Sumber dari artikel dalam majalah atau koran
Nama pengarang ditulis paling depan diikuti oleh tahun, dan bulan
(jika ada). Nama majalah diberi garis bawah atau ditulis dengan huruf
miring. Nomor halaman disebut pada bagian akhir.
Contoh:
Huda, N. 1991. 13 November. Menyiasati Krisis Listrik Musim Kering.
Jawa Pos, hlm. 6.

4. Sumber dari koran tanpa pengarang
Judul ditulis pada bagian awal. Tahun, tanggal, dan bulan ditulis
sebelah judul. Kemudian, nama surat kabar ditulis dengan garis bawah
atau dengan huruf miring dan diikuti nomor halaman.
Contoh :
Perkembangan Properti Indonesia. 1999, 21 September.
Kompas, hlm 7.

5. Sumber dari dokumen resmi pemerintah yang diterbitkan oleh suatu
penerbit tanpa pengarang dan tanpa lembaga
Judul atau dokumen ditulis di bagian awal dengan diberi garis bawah
atau ditulis dengan huruf miring, diikuti tahun penerbitan dokumen,
kota penerbit, dan nama penerbit.

Contoh:Undang-Undang Republik Indonesia, No.2 Th. 1989 tentang sistem Pendidikan
Nasional.
Jakarta. PT Armas Dutajaya.

6. Sumber berupa karya terjemahan
Nama pengarang asli ditulis paling depan, diikuti tahun penerbitan
karya asli, judul terjemahan, nama penerjemah, tahun terjemahan,
nama tempat penerbitan, dan nama penerbit terjemahan. Apabila tahun
penerbitan buku asli tidak dicantumkan, ditulis dengan kata “Tanpa
tahun”.
Contoh:
Ary, Donald L.C. Jacobs, dan A. Rozawick. “Tanpa tahun”.
Pengantar
Penelitian Pendidikan
. Arif Furchan (pen). 1982. Surabaya: Usaha
Nasional.

7. Sumber berupa Skripsi, Tesis, atau Disertasi
Nama penyusun ditulis paling depan, diikuti tahun yang tercantum
pada sampul. Judul skripsi dan tesis ditulis dengan garis bawah atau
huruf miring diikuti dengan pernyataan skripsi, tesis, atau disertasi
tidak diterbitkan, nama kota tempat perguruan tinggi, serta nama
fakultas dan perguruan tinggi.
Contoh:
Solihin. 1992.
Kesesuaian TIK, KBM, dan Evaluasi Mahasiswa PPL
Universitas Lampung
. Skripsi tidak diterbitkan. Lampung: FKIP
Universitas Lampung.

8. Sumber berupa makalah yang disajikan dalam seminar
Nama penyusun ditulis paling depan, diikuti dengan tahun, judul
makalah, pernyataan makalah disajikan dalam nama pertemuan
yang diikuti ditulis dengan garis bawah atau huruf miring, lembaga
penyelenggara, tempat, dan tanggal penyelenggaraan.
Contoh:
Kuntarto, Bambang. 1999. HIV di Kalangan Remaja. Makalah disajikan
dalam
Seminar Kesehatan, Pemda Kabupaten Lebak, Lebak, 10-11 September
1999.


Pengertian, Jenis-Jenis, dan Contoh dari Kalimat Majemuk



Kalimat yang terdiri atas dua klausa atau lebih. Kalimat ini dibedakan atas kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk
bertingkat

1. Kalimat Majemuk Setara
Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang klausa
klausa atau
memiliki kedudukan yang sederajat. Kalimat majemuk setara
ditandai dengan konjungsi tertentu
a. KMS gabungan: dan, (serta)
b. KMS pilihan: atau
c. KMS pertentangan: tetapi, sedangkan, melainkan
d. KMS penguatan: bahkan, malah, apalagi, dan
e. KMS lanjutan: lalu, (kemudian)
Contoh
a. Ia seorang yang baik hati dan jujur
b. akan bermain sepak bola atau bermain tenis?
c. Rustam punya hobi melukis, sedangkan adiknya punya hobi bermusik.

2. Kalimat Majemuk Bertingkat

Kalimat majemuk bertingkat ialah kalimat majemuk yang terdiri atas dua
klausa yang tidak sederajat. Satu di antara klausa mengisi posisi utama atau
atasan (disebut juga induk kalimat), sedangkan klausa yang satu lagi
berkedudukan sebagai klausa bawahan (disebut juga anak kalimat). Klausa
yang mengisi posisi anak kalimat merupakan perluasan dari fungsi kalimat
yang ada pada induk kalimat. Oleh karena itu, dalam kalimat majemuk
bertingkat dikenal hal berikut
(1) Anak kalimat perluasan subjek
a. Anak yang terjatuh itu dibawa ke puskesmas.
b. Bahwa ujian tengah semester diundur sudah disampaikan wakil kepala
sekolah
(2) Anak kalimat perluasan predikat
Paman saya seorang hakim yang bertugas di Banda Ace
(3) Anak kalimat perluasan objek
a. Kami sudah menonton film yang digarap sutradara muda berbakat itu
b. Santi sudah mengetahui bahwa teman akrabnya ditangkap polisi
(4) Anak kalimat perluasan keterangan
a. Perkelahian itu tidak akan terjadi kalau guru-guru dapat mengantisipasi
keadaan
b. Kakek datang ke rumah pada saat kami sekeluarga sedang
makan
siang
class='blog-feeds'