Contoh karya sastra melayu klasik

KOTAK PENCARIAN




Contoh karya sastra melayu klasik

Ringkasan Hikayat Nakhoda Muda
Ada seorang raja yang bernama Raja Gaznawi yang
besar kerajaannya dan memerintah dengan adil. Sekali
peristiwa, baginda bermimpi memperoleh seorang
perempuan yang amat baik parasnya. Perempuan
itu memakai kain merah dan memberi makan hati
biri-biri panggang dengan isi pinggangnya. Maka,
baginda berahi akan perempuan yang dilihat dalam
mimpi itu. Dua orang anak perdana menteri yang
masing-masing bernama Husain Mandi dan Husain
Mandari, sanggup pergi mencari perempuan itu.
Tersebut pula perkataan Husain Mandari, dua
bersaudara pergi mencari perempuan yang
dimimpikan raja itu. Segala rumah raja-raja,
rumah pengawal, dan rumah orang besar-besar
semuanya diperiksa mereka, tetapi perempuan
seperti yang dimimpikan baginda tidak dijumpai
juga. Kemudian, mereka sampai di pinggir negeri
Batawi. Mereka bertemu dengan seorang tua yang
mengambil kayu dan bertanya: “Adakah di dalam
negeri itu rumah yang tiada berdapur?” Mereka
mengikuti orang tua itu berjalan, tetapi kelakuan
mereka menimbulkan prasangka di hati orang tua itu.
Mereka mengembangkan payung semasa berjalan di
dalam hutan, memakai kaus, dan sarung kaki semasa
menyeberangi sungai, serta menamai jembatan yang
tiada pegangan itu jembatan monyet. Akhirnya,
mereka masih memperingatkan orang tua itu bahwa
kalau sampai di rumah, mestilah berdehem-dehem
dahulu barulah naik ke rumah. Orang tua itu tidak
memberi perhatian kepada peringatan kedua orang
itu. Setiba di rumah, didapatinya Sitti Sara sedang
mandi telanjang, kelihatan susunya.
Orang tua itu menceritakan kepada Sitti Sara kelakuan
dua orang muda yang dijumpainya di tengah jalan
itu. Anaknya menjawab bahwa perbuatan kedua
anak muda itu ada alasannya. Misalnya, kalau
bapanya berdehem-dehem dahulu sebelum naik ke
rumah, niscaya ia sempat mengambil kain untuk
menutup susunya.
Selang beberapa hari, Sitti Sara menyuruh seorang
budak perempuan yang bernama Si Delima
mengantar makanan kepada kedua anak muda itu.
Makanan yang diantar itu ialah apam tiga puluh
biji, kuah tujuh mangkuk dan air sekendi. Ia juga
berpesan: “Adapun sebulan itu genap tiga puluh hari
dan sejumaat itu genap tujuh hari, dan ada ketika
air pasang.” Kedua orang muda itu menyambut
makanan itu dengan gembira dan memberikan setail
emas kepada Sitti Sara. Pada keesokan harinya, Sitti
Sara berbuat pula makanan yang sama jumlahnya,
pesannya pun sama juga. Tetapi kali ini Si Delima
bertemu kendaknya di jalan dan memberikan apam
sebiji, kuah satu mangkuk dan air di kendi. Setelah
menerima makanan yang kurang dari biasanya itu,
kedua anak muda memberi pesan kepada Sitti Sara:
“Adapun sebulan itu kurang sehari tiga puluh dan
sejumaat itu enam hari juga dan pasang itu sudah
surut.” Dengan demikian Sitti Sara tahu perbuatan
curang budak perempuannya itu.
Pada suatu hari, Sitti Sara mempersilakan kedua
orang muda itu ke rumahnya. Disediakannya hati
biri-biri dan isi pinggang yang dipanggang sebagai
lauknya. Husain Mandari dan Husain Mandi melihat
rupa Sitti Sara dan makanan yang disajikan itu. Pada
pikiran mereka, Sitti Sara adalah perempuan yang
dimimpikan baginda. Gambar Sitti Sara lalu dikirim
kepada baginda. Baginda sukacita melihat gambar
Sitti Sara tiada berbeda dengan perempuan yang
dilihatnya dalam mimpi. Utusan lalu dikirim untuk
meminang Sitti Sara. Setelah pinangan diterima oleh
orang tuanya, Sitti Sara diarak ke Negeri Gaznawi
untuk dinikahkan dengan baginda. Maka, baginda
pun terlalu kasih akan Sitti Sara dan memeliharanya
seperti menatang minyak penuh.
Setelah beberapa lama baginda menikah, baginda
pergi berburu ke dalam hutan. Dipanahnya seekor
rusa, kena kepalanya, lalu mati. Maka, datanglah
anak rusa itu menangisi ibunya yang sudah mati.
Kemudian, baginda insaf akan keadaan dirinya
yang tiada beranak itu, lalu ia berlayar ke Pulau
Langkawi. Dia mengatakan kepada istrinya bahwa
dia baru akan kembali, kalau istrinya sudah beranak,
cincinnya pindah ke tangan istrinya, kudanya sudah
beranak dan gedungnya yang tujuh buah itu sudah
berisi ketujuhnya. Sitti Sara diam saja, tiada berkatakata.
Sepeninggalan baginda, Sitti Sara pun memanggil
Husain Mandari dan Husain Mandi serta berunding
dengan mereka tentang keadaan dirinya. Disuruhnya
mereka menyediakan sebuah perahu yang lengkap
dengan segala perkakasnya, teristimewa kayu dan air.
Disiapkan juga seekor kuda betina, perkakas orang
pandai emas dan papan catur. Dengan menyamar
sebagai seorang nakhoda, Sitti Sara pun berlayar
ke Pulau Langkawi. Ia memperkenalkan dirinya
sebagai seorang nakhoda yang datang dari Negeri
Dangsekan. Maksudnya ialah hendak bermain catur
dengan baginda.
Maka Sitti Sara yang menyebut dirinya Nakhoda
Muda itu, bermain catur dengan baginda. Taruhannya
ialah isi kapalnya. Untuk tiga kali pertama, baginda
kalah dan terpaksa menyerahkan kuda, cincin dan
segala hartanya. Untuk kali keempat, Sitti Sara
menjadikan gundiknya sebagai taruhan. Tetapi,
kali ini Sitti Sara berpura-pura kalah dan datang
menghadap baginda sebagai gundik Nakhoda
Muda. Tujuh hari lamanya, Sitti Sara bersama-sama
dengan baginda, kemudian ia pun dikembalikan
kepada Nakhoda Muda. Sekembali ke perahunya,
Sitti Sara pun berlayar kembali ke Negeri Gaznawi,
karena maksudnya sudah tercapai.
Beberapa bulan kemudian, perut Sitti Sara besar
dan pada hari yang baik, ia melahirkan seorang lakilaki
yang baik parasnya, serupa dengan ayahanda
baginda. Kudanya juga beranak kuda jantan.
Kemudian, baginda kembali ke negerinya dan
mendapati bahwa Sitti Sara sudah mempunyai anak.
Baginda murka sekali seperti hendak membunuh
Sitti Sara. Maka, Sitti Sara menerangkan segala
kelakuannya dan segala perilakunya menyamar
sebagai laki-laki dan bermain catur dengan baginda.
Setelah mendengar kata-kata Sitti Sara itu, baginda
pun menjadi suka hati dan bertambah kasih hatinya
kepada istrinya. Maka, kekallah Sitti Sara itu
menjadi permaisuri Raja Gaznawi. Husain Mandari
dan Husain Mandi dua bersaudara juga dijadikan
menteri di dalam negeri. Tamatlah Hikayat Nakhoda
Muda ini.



Contoh karya sastra melayu klasik 9out of 10 based on 10 ratings. 9 user reviews.
Terimakasih telah membaca artikel: Contoh karya sastra melayu klasik di Handikas's blog
-SERTAKAN SUMBER ARTIKEL http://handikap60.blogspot.com/2013/02/contoh-karya-sastra-melayu-klasik.html KETIKA MENGCOPY !!!
- bagikan artikel tersebut melalui facebook dan twitter
- update artikel di blog ini dengan cara like fanpage facebook dan follow twitter kami
- baca artikel seputar pendidikan yang lain di blog ini

BACA JUGA !!!!

4 comments:

  1. Menarik. tapi formatnya kurang bagus gan..
    ohya, kita sama-sama blog pendidikan bagaimana kalau saling tukar link agar pagerank kita bisa naik?
    salam Science And Education

    ReplyDelete
  2. informasi yang sangat inovatif dan penuh inspiratif. kebanyakan blog yang saya kunjungi isinya tidak sebagus ini. saya merasa puas dengan apa yang di sajikan dalam blog ini. thanks gan.

    ReplyDelete