perlawanan rakyat indonesia terhadap pemerintahan belanda

KOTAK PENCARIAN



Kebijakan pemerintah kolonial di bidang politik pada abad ke-19 semakin
intensif dan pengaruhnya semakin kuat. Hal ini menyebabkan runtuhnya kekuasaan
penduduk pribumi, dan hilangnya kebebasan penduduk. Oleh karena itu timbullah
berbagai bentuk perlawanan dari rakyat Indonesia. Ada perlawanan berskala kecil,
atau gerakan sosial, dan perlawanan besar.
1. Perlawanan Pattimura (1817)
a. Latar Belakang Terjadinya Perlawanan
Maluku termasuk daerah yang paling awal didatangi oleh Belanda yang
kemudian berhasil memaksakan monopoli perdagangan. Rempah-rempah Maluku
hanya boleh dijual kepada Belanda. Kalau tidak dijual kepada Belanda, maka mereka
dicap sebagai penyelundup dan pembangkang. Maka latar belakang terjadinya
perlawanan rakyat Maluku di bawah pimpinan Thomas Matulessi yang lebih dikenal
dengan nama Kapiten Pattimura, adalah sebagai berikut.
1) Kembalinya pemerintahan kolonial Belanda di Maluku
dari tangan Inggris. Perubahan penguasa dengan
sendirinya membawa perubahan kebijaksanaan dan
peraturan. Apabila perubahan itu menimbulkan banyak
kerugian atau penghargaan yang kurang, sudah barang
tentu akan menimbulkan rasa tak puas dan
kegelisahan.
2) Pemerintah kolonial Belanda memberlakukan kembali
penyerahan wajib dan kerja wajib. Pada zaman
pemerintahan Inggris penyerahan wajib dan kerja wajib
(verplichte leverantien, herendiensten) dihapus, tetapi
pemerintah Belanda mengharuskannya lagi. Tambahan
pula tarif berbagai barang yang disetor diturunkan,
sedang pembayarannya ditunda-tunda.
3) Pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan uang kertas
sebagai pengganti uang logam yang sudah berlaku di
Maluku, menambah kegelisahan rakyat.
4) Belanda juga mulai menggerakkan tenaga dari
kepulauan Maluku untuk menjadi Serdadu (Tentara)
Belanda.
b. Jalannya Perlawanan
Protes rakyat di bawah pimpinan Thomas Matulessi diawali dengan
penyerahan daftar keluhan-keluhan kepada Belanda. Daftar itu ditandatangani oleh
21 penguasa orang kaya, patih, raja dari Saparua dan Nusa Laut. Namun tidak
mendapat tanggapan dari Belanda. Pada tanggal 3 Mei 1817 kira-kira seratus orang,
di antaranya Thomas Matulessi berkumpul di hutan Warlutun dan memutuskan
untuk menghancurkan benteng di Saparua dan membunuh semua penghuninya.
Pada tanggal 9 Mei berkerumunlah lagi sejumlah orang yang sama di tempat
tersebut. Dipilihnya Thomas Matulessi sebagai kapten.
Serangan dimulai pada tanggal 15 Mei 1817 dengan menyerbu pos Belanda di
Porto. Residen Van den Berg dapat ditawan, namun kemudian dilepas lagi.
Keesokan harinya rakyat mengepung benteng Duurstede dan direbut dengan penuh
semangat. Seluruh isi benteng itu dibunuh termasuk residen Van den Berg beserta keluarga
dan para perwira lainnya. Rakyat Maluku berhasil menduduki benteng Duurstede.
Setelah kejadian itu, Belanda mengirimkan pasukan yang kuat dari Ambon
lengkap dengan persenjataan di bawah pimpinan Mayor Beetjes. Ekspedisi ini
berangkat tanggal 17 Mei 1817. Dengan perjalanan yang melelahkan, pada tanggal
20 Mei 1817 pasukan itu tiba di Saparua dan terjadilah pertempuran dengan pasukan
Pattimura. Pasukan Belanda dapat dihancurkan dan Mayor Beetjes mati tertembak.
Belanda berusaha mengadakan
perundingan dengan Pattimura namun
tidak berhasil sehingga peperangan terus
berkobar. Belanda terus-menerus menembaki
daerah pertahanan Pattimura
dengan meriam, sehingga benteng
Duurstede terpaksa dikosongkan.
Pattimura mundur, benteng diduduki
Belanda, tetapi kedudukan Belanda
dalam benteng menjadi sulit karena
terputus dengan daerah lain. Belanda
minta bantuan dari Ambon. Setelah
bantuan Belanda dari Ambon yang
dipimpin oleh Kapten Lisnet dan Mayer datang, Belanda mengadakan serangan besarbesaran
(November 1817).
c. Akhir Perlawanan
Serangan Belanda tersebut, menyebabkan pasukan Pattimura semakin terdesak.
Banyak daerah yang jatuh ke tangan Belanda. Para pemimpinnya juga banyak yang
tertangkap yaitu Rhebok, Thomas Pattiwael, Pattimura, Raja Tiow, Lukas Latumahina,
dan Johanes Mattulessi. Pattimura sendiri akhirnya tertangkap di Siri Seri yang
kemudian dibawa ke Saparua. Belanda membujuk Pattimura untuk diajak kerja
sama, namun Pattimura menolak. Oleh karena itu, pada tanggal 16 Desember 1817
Pattimura dihukum gantung di depan benteng Victoria Ambon. Sebelum digantung,
Pattimura berkata ”Pattimura-Pattimura tua boleh dihancurkan, tetapi sekali waktu
kelak Pattimura-Pattimura muda akan bangkit”.
Tertangkapnya para pemimpin rakyat Maluku yang gagah berani tersebut
menyebabkan perjuangan rakyat Maluku melawan Belanda melemah dan akhirnya
Maluku dapat dikuasai oleh Belanda.
2. Perlawanan Kaum Padri (1821 – 1837)
a. Latar Belakang Terjadinya Perlawanan
Kaum Adat di Minangkabau mempunyai kebiasaan yang kurang baik yaitu
minum-minuman keras, berjudi, dan
menyabung ayam. Kebiasaan itu
dipandang oleh kaum Padri sangat
bertentangan dengan agama Islam.
Kaum Padri berusaha menghentikan
kebiasaan itu, tetapi Kaum Adat
menolaknya maka kemudian terjadilah
pertentangan antara kedua golongan
tersebut.
Gerakan Padri di Sumatera Barat,
bermula dengan kedatangan tiga orang
haji asal Minangkabau dari Mekkah
tahun 1803. Ketiga haji tersebut adalah
Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji
Piabang. Ketiga haji itu membawa
perubahan baru dalam masyarakat
Minangkabau dan sekaligus ingin
menghentikan kebiasaan yang
dianggapnya menyimpang dari ajaran
agama Islam.
Tujuan gerakan Padri adalah untuk membersihkan kehidupan agama Islam dari
pengaruh-pengaruh kebudayaan dan adat istiadat setempat yang dianggap menyalahi
ajaran agama Islam. Diberantasnya perjudian, adu ayam, pesta-pesta dengan hiburan
yang dianggap merusak kehidupan beragama. Gerakan ini kemudian terkenal dengan
nama “Gerakan Wahabi”. Kaum adat tidak tinggal diam, tetapi mengadakan perlawanan
yang dipimpin oleh Datuk Sati, maka terjadilah perang saudara.
Perang saudara mulai meletus di Kota Lawas, kemudian menjalar ke kota-kota
lain, seperti Bonjol, Tanah Datar, dan Alahan Panjang. Tokoh-tokoh kaum Padri yang
terkenal adalah Tuanku Imam Bonjol, Tuanku nan Cerdik, Tuanku Pasaman, dan
Tuanku Hitam. Kaum adat mulai terdesak. Ketika Belanda menerima penyerahan
kembali daerah Sumatera Barat dari Inggris, kaum adat meminta bantuan kepada
Belanda menghadapi kaum Padri. Oleh karena itu, kaum Padri juga memusuhi Belanda.
b. Jalannya Perlawanan
Musuh kaum Padri selain kaum adat adalah Belanda. Perlawanan dimulai tahun
1821 dengan serbuan ke berbagai pos Belanda dan pencegatan terhadap patroli
Belanda. Pasukan Padri bersenjatakan senjata tradisional, sedangkan pihak musuh
menggunakan meriam dan jenis senjata lainnya. Pertempuran berlangsung seru
sehingga banyak menimbulkan korban kedua belah pihak. Pasukan Belanda
mendirikan benteng pertahanan di Batusangkar diberi nama Fort Van Der Capellen.
Benteng pertahanan kaum Padri dibangun di berbagai tempat, antara lain Agam
dan Bonjol yang diperkuat dengan pasukan yang banyak jumlahnya.
Tanggal 22 Januari 1824 diadakan perjanjian Mosang
dengan kaum Padri, namun kemudian dilanggar oleh
Belanda. Pada April 1824 Raaf meninggal digantikan oleh
Kolonel De Stuers. Dia membangun Benteng Fort De Kock,
di Bukit Tinggi. Tanggal 15 November 1825 diadakan
perjanjian Padang. Kaum Padri diwakili oleh Tuanku Nan
Renceh dan Tuanku Pasaman. Seorang Arab, Said
Salimuljafrid bertindak sebagai perantara. Pada hakikatnya
berulang-ulang Belanda mengadakan perjanjian itu
dilatarbelakangi kekuatannya yang tidak mampu
menghadapi serangan kaum Padri, di samping itu bantuan
dari Jawa tidak dapat diharapkan, karena di Jawa sedang
pecah Perang Diponegoro.
Tahun 1829 daerah kekuasaan kaum Padri telah
meluas sampai ke Batak Mandailing, Tapanuli. Di Natal,
Tapanuli Baginda Marah Husein minta bantuan kepada
kaum Padri mengusir Gubernur Belanda di sana. Maka
setelah selesai perang Diponegoro, Natal di bawah
pimpinan Tuanku Nan Cerdik dapat mempertahankan serangan Belanda di sana.
Tahun 1829 De Stuers digantikan oleh Letnan Kolonel Elout, yang datang di Padang
Maret 1931. Dengan bantuan Mayor Michiels, Natal dapat direbut, sehingga Tuanku
Nan Cerdik menyingkir ke Bonjol. Sejak itu kampung demi kampung dapat direbut
Belanda. Tahun 1932 datang bantuan dari Jawa, di bawah Sentot Prawirodirjo. Dengan
cepat Lintau, Bukit, Komang, Bonjol, dan hampir seluruh daerah Agam dapat dikuasai
oleh Belanda. Melihat kenyataan ini baik kaum Adat maupun kaum Padri menyadari
arti pentingnya pertahanan. Maka bersatulah mereka bersama-sama menghadapi
penjajah Belanda.
c. Akhir Perlawanan
Setelah daerah-daerah sekitar Bonjol dapat dikuasai oleh Belanda, serangan
ditujukan langsung ke benteng Bonjol. Membaca situasi yang gawat ini, Tuanku
Imam Bonjol menyatakan bersedia untuk berdamai. Belanda mengharapkan, bahwa
perdamaian ini disertai dengan penyerahan. Tetapi Imam Bonjol berpendirian lain.
Perundingan perdamaian ini adalah siasat mengulur waktu, agar dapat mengatur
pertahanan lebih baik, yaitu membuat lubang yang menghubungkan pertahanan
dalam benteng dengan luar benteng, di samping untuk mengetahui kekuatan musuh
di luar benteng. Kegagalan perundingan ini menyebabkan berkobarnya kembali
pertempuran pada tanggal 12 Agustus 1837.
Belanda memerlukan waktu dua bulan untuk dapat menduduki benteng Bonjol,
yang didahului dengan pertempuran yang sengit. Meriam-meriam Benteng Bonjol
tidak banyak menolong, karena musuh berada dalam jarak dekat. Perkelahian satu
lawan satu tidak dapat dihindarkan lagi. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak.
Pasukan Padri terdesak dan benteng Bonjol dapat dimasuki oleh pasukan Belanda
menyebabkan Tuanku Imam Bonjol beserta sisa pasukannya menyerah pada tanggal
25 Oktober 1937. Walaupun Tuanku Imam Bonjol telah menyerah tidak berarti
perlawanan kaum Padri telah dapat dipadamkan. Perlawanan masih terus
berlangsung dipimpin oleh Tuanku Tambusi pada tahun 1838. Setelah itu berakhirlah
perang Padri dan daerah Minangkabau dikuasai oleh Belanda.
3. Perlawanan Diponegoro (1825 – 1830)
Perlawanan rakyat Jawa di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro merupakan
pergolakan terbesar yang dihadapi pemerintah kolonial Belanda di Jawa. Pemerintah
kolonial Belanda mengalami kesulitan mengatasi perlawanan ini dan menanggung
biaya yang sangat besar. Adapun sebab-sebab terjadinya Perang Diponegoro dapat
dibagi menjadi dua, yaitu sebab umum dan sebab khusus.
a. Sebab-Sebab Umum
1) Wilayah Mataram semakin dipersempit dan terpecah
Karena ulah penjajah, kerajaan Mataram yang besar, di bawah Sultan Agung
Hanyokrokusumo, terpecah belah menjadi kerajaan yang kecil. Melalui
perjanjian Gianti 1755, kerajaan Mataram dipecah menjadi Kasunanan
Surakarta dan Kesultanan Ngayoyakarta. Dengan perjanjian Salatiga 1757
muncullah kekuasaan baru yang disebut Mangkunegaran dan pada tahun
1813 muncul kekuasaan Pakualam. Kenyataan inilah yang dihadapi oleh
Diponegoro.
2) Masuknya adat Barat ke dalam kraton
Pengaruh Belanda di kraton makin bertambah besar. Adat kebiasaan kraton
Yogyakarta seperti menyajikan sirih untuk Sultan bagi pembesar Belanda
yang menghadap Sultan, dihapuskan. Pembesar-pembesar Belanda duduk
sejajar dengan sultan. Yang paling mengkhawatirkan adalah masuknya
minuman keras ke kraton dan beredar di kalangan rakyat.
3) Belanda ikut campur tangan dalam urusan
kraton
Campur tangan yang amat dalam mengenai
penggantian tahta dilaksanakan oleh Belanda.
Demikian pula mengenai pengangkatan birokrasi
kerajaan. Misalnya pengangkatan beberapa
pegawai yang ditugaskan untuk memungut pajak.
4) Hak-hak para bangsawan dan abdi dalem
dikurangi
Telah terjadi kebiasaan bahwa kepada keluarga
raja (sentana dalem), memberikan jaminan hidup
berupa tanah apanase, juga kepada pegawai
kerajaan (abdi dalem) diberikan gaji berupa tanah
lungguh. Pada masa Kompeni maupun masa
kolonial Inggris dan Belanda, banyak tanah-tanah
tersebut diambil oleh pemerintah kolonial. Dengan
demikian para bangsawan (sentana dalem) dan para abdi banyak yang
kehilangan sumber penghasilan. Akibatnya di hati mereka timbul rasa tidak
senang karena hak-haknya dikurangi, termasuk hak-hak raja dan kerajaan.
5) Rakyat menderita akibat dibebani berbagai pajak
Berbagai macam pajak yang dibebankan pada rakyat, antara lain:
- pejongket (pajak pindah rumah);
- kering aji (pajak tanah);
- pengawang-awang (pajak halaman-pekarangan);
- pencumpling (pajak jumlah pintu);
- pajigar (pajak ternak);
- penyongket (pajak pindah nama);
- bekti (pajak menyewa tanah atau menerima jabatan).
b. Sebab Khusus
Sebab yang meledakkan perang ialah provokasi yang dilakukan penguasa
Belanda seperti merencanakan pembuatan jalan menerobos tanah Pangeran
Diponegoro dan membongkar makam keramat. Sebagai protes patok-patok (tanda
dari tongkat kayu pendek) untuk pembuatan jalan dicabut dan diganti dengan
tombak-tombak. Residen Smissaert berusaha mengadakan perundingan tetapi,
Pangeran Diponegoro tidak muncul, hanya mengirim wakilnya, Pangeran
Mangkubumi. Asisten Residen Chevallier untuk menangkap kedua pangeran,
digagalkan oleh barisan rakyat di
Tegalreja. Mereka telah meninggalkan
tempat. Pangeran Diponegoro pindah ke
Selarong tempat ia memimpin perang.
Pangeran Diponegoro minta kepada
Residen agar Patih Danurejo dipecat.
Surat baru mulai ditulis mendadak rumah
Pangeran Diponegoro diserbu oleh
serdadu Belanda di bawah pimpinan
Chevailer. Diponegoro menyingkir dari
Tegalrejo beserta keluarganya. Rumah
Pangeran Diponegoro dibakar habis. Dia
diikuti oleh Pangeran Mangkubumi. Pergilah mereka ke Kalisoka dan dari sanalah
meletus perlawanan Pangeran Diponegoro (20 Juli 1825). Banyak para pangeran dan
rakyat menyusul Pangeran Diponegoro ke Kalisoka untuk ikut melakukan perlawanan
dengan berlandaskan tekad perang suci membela agama Islam (Perang Sabil)
menentang ketidakadilan. Dari Kalisoka pengikut Pangeran Diponegoro tersebut
dibawa ke Goa Selarong, jaraknya 7 pal (13 km) dari Yogyakarta. Pasukan Belanda
yang mengejar Pangeran Diponegoro dapat dibinasakan oleh pasukan Pangeran
Diponegoro di bawah pimpinan Mulya Sentika. Yogyakarta menjadi kacau, prajurit
Belanda dan Sultan Hamengku Buwana V menyingkir ke Benteng Vredenburg.
c. Jalannya Perlawanan
Dari Selarong, tentara Diponegoro mengepung kota Yogyakarta sehingga Sultan
Hamengku Buwana V yang masih kanak-kanak diselamatkan ke Benteng Belanda.
Perang berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya dengan siasat perang gerilya
dan mendadak menyergap musuh. Pangeran Diponegoro ternyata seorang panglima
perang yang cakap. Berkali-kali pasukan Belanda terkepung dan dibinasakan. Belanda
mulai cemas. Dipanggillah tentaranya yang berada di Sumatera, Sulawesi, Semarang,
dan Surabaya untuk menghadapi laskar Diponegoro. Namun, usaha itu sia-sia.
Pusat pertahanan Diponegoro dipindahkan ke Plered. Dari sini gerakan
Diponegoro meluas sampai di Banyuwangi, Kedu, Surakarta, Semarang, Demak,
dan Madiun. Kemenangan yang diperoleh Diponegoro membakar semangat rakyat
sehingga banyak yang menggabungkan diri. Bupati daerah dan bangsawan kraton
banyak juga yang memihak kepadanya. Misalnya Bupati Madiun, Bupati Kertosono,
Pangerang Serang, dan Pangeran Suriatmojo dari Banyumas.
Di Plered, Pangeran Diponegoro sempat dinobatkan menjadi sultan dengan
gelar Sultan Abdul Hamid Herucakra Amirul Mukminin Sayidin Panatagama
Khalifatullah Tanah Jawa, berpusat di Plered. Tanggal 9 Juni 1862 Plered diserbu
Belanda. Pertahanan dipimpin oleh Kerta Pengalasan. Dalam perang tersebut,
Pangeran Diponegoro dibantu seorang yang gagah berani, bernama Sentot dengan
gelar Alibasyah Prawirodirjo, putra dari Bupati Madiun Raden Ronggo Prawirodirjo.
Dari Plered, pertahanan Pangeran Diponegoro dipindahkan
lagi ke Deksa.
Belanda mengalami kesulitan dalam menghadapi pasukan
Diponegoro. Belanda terpaksa mendatangkan pasukan
tambahan dari negeri Belanda. Namun, pasukan tambahan
Belanda tersebut dapat dihancurkan oleh pasukan Diponegoro.
Akibat berbagai kekalahan perang pada periode tahun
1825 – 1826 Belanda pada tahun 1827 mengangkat Jenderal
De Kock menjadi panglima seluruh pasukan Belanda di Jawa.
Belanda menggunakan siasat perang baru yang dikenal
dengan ”Benteng Stelsell”, yaitu setiap daerah yang dikuasai
didirikan benteng untuk mengawasi daerah sekitarnya.
Antara benteng yang satu dan benteng lainnya dihubungkan
oleh pasukan gerak cepat.
Benteng Stelsell atau Sistem Benteng ini mulai dilaksanakan
oleh Jenderal De Kock pada tahun 1827. Tujuannya adalah
untuk mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro dengan
jalan mendirikan pusat-pusat pertahanan berupa bentengbenteng
di daerah-daerah yang telah dikuasainya.
Dengan adanya siasat baru ini perlawanan pasukan Diponegoro makin lemah.
Di samping itu Belanda berusaha menjauhkan Diponegoro dari pengikutnya.
d. Akhir Perlawanan
Penyerahan para pangeran ini secara berturut-turut sangat memukul perasaan
Diponegoro. Dalam menghentikan perlawanan Diponegoro, Belanda menempuh
jalan yang mungkin. Rupanya Belanda memakai prinsip menghalalkan cara untuk
mencapai tujuan dalam menghadapi Diponegoro.
Belanda mengajak Pangeran Diponegoro untuk berunding di Magelang, Belanda
berjanji seandainya perundingan gagal, Pangeran Diponegoro boleh melanjutkan
kembali ke medan perang.
Perundingan ini baru dilaksanakan pada tanggal 28 Maret 1830, setelah Diponegoro
beristirahat selama 20 hari karena bulan Ramadhan. Ternyata perundingan ini
menemui kegagalan dan dalam perundingan itulah Pangeran Diponegoro ditangkap.
Belanda telah mengkhianati Diponegoro. Belanda telah mengkhianati janjinya. Dari
Magelang Diponegoro dibawa ke Semarang dan Batavia. Akhirnya diasingkan ke
Manado tanggal 3 Mei 1830. Pada tahun 1834 ia dipindahkan ke Makasar (sekarang
Ujung Pandang) dan wafat tanggal 8 Januari 1855 dalam usia 70 tahun.
4. Perlawanan Hasanudin di Sulawesi Selatan
a. Latar Belakang Terjadinya Perlawanan
Perkembangan politik, ekonomi, dan sosial di Sulawesi Selatan pada abad-abad
yang lalu sangat dipengaruhi oleh kerajaan-kerajaan itu yang besar pengaruhnya
adalah kerajaan Gowa dan kerajaan Bone. Kerajaan Gowa kemudian bersatu dengan
kerajaan Tallo, terkenal dengan nama kerajaan Gowa-Tallo. Kerajaan Gowa-Tallo ini
bersikap anti Belanda oleh karena Belanda menjalankan politik monopoli perdagangan
rempah-rempah, politik ekstirpasi dan mencampuri urusan penggantian tahta (politik
devide et impera). Di samping itu, Belanda berusaha membatasi pelayaran perahu
pinisi orang-orang Makasar di Maluku. Raja-raja Gowa-Tallo berpendapat, bahwa
Tuhan Yang Maha Esa menciptakan laut, oleh karena itu siapa pun boleh melayarinya
untuk mencari nafkah. Orang-orang suku Makasar dengan perahu pinisinya melayari
laut-laut di kepulauan Maluku untuk berdagang rempah-rempah.
b. Jalannya Perlawanan
Sultan Hasanudin adalah Sultan Kerajaan Gowa - Tallo. Ia membela kepentingan
kerajaannya, kepentingan rakyatnya dengan mati-matian melawan Belanda. Ia
berusaha menegakkan kedaulatan kerajaannya dan memperluas wilayah kerajaannya.
Maka ia berhadapan dengan Aru Palaka raja Bone yang dibantu oleh Belanda. Dengan
tipu daya, akhirnya Hasanudin dapat dikalahkan dan harus menandatangani
perjanjian Bongaya tanggal 18 November 1667. Dengan demikian perlawanan
Kerajaan Gowa berakhir.
Pada tahun 1776 Kerajaan Gowa bangkit lagi melawan
Belanda. Hal ini juga dilakukan oleh kerajaan Bone, Tanette,
Wajo, dan Suppa. Perlawanan itu dapat ditekan dan hanya
kerajaan Gowa yang mau mengakui kekuasaan Belanda.
Pada tahun 1824, Belanda menyerang Tanette dan
menguasainya, kemudian menyerang Suppa. Ternyata
Belanda mendapat perlawanan keras dari rakyat Suppa
sehingga menderita kekalahan. Belanda mengadakan serangan
kedua yang dibantu oleh pasukan dari Gowa dan Sidenreng.
Menghadapi kekuatan besar, Suppa menderita kekalahan dan
Belanda berhasil menduduki beberapa bentengnya.
Pada bulan Oktober 1824 pasukan Bone dapat
menghancurkan pos-pos Belanda di Pangkajene, Labakang,
dan merebut kembali Tanette. Rajanya dinaikkan tahta kembali dan kemudian Tanette
bergabung dengan Bone. Setelah itu, Bone dapat dihancurkan iring-iringan pasukan
induk Belanda pemimpin Kapten le Cleng yang membawa 173 meriam. Kekuatan
Bone semakin besar dan daerah kekuasaannya semakin luas. Bone merasa
berkewajiban melindungi kerajaan-kerajaan lainnya.
c. Akhir Perlawanan
Kedudukan Belanda di Makasar semakin lemah. Oleh karena itu, Belanda minta
bantuan ke Batavia. Pemerintah kolonial Belanda di Batavia mengirimkan pasukannya
di bawah pimpinan Jenderal Mayor Van Geen. Pada tanggal 5 Februari 1825 Van
Geen mengadakan serangan besar-besaran ke pusat-pusat pertahanan pasukan Bone,
terutama Bulukamba, Suppa, Segeri, Labakang, dan Pangkajene. Pada saat yang
bersamaan, raja Tanette (wanita) berbalik memihak Belanda. Hal ini jelas melemahkan
Bone. Pertempuran terus berkobar dan pasukan Bone bertahan mati-matian. Namun,
karena kalah dalam persenjataan, pasukan Bone semakin terdesak. Benteng Bone
yang terkuat di Bulukamba dapat dikuasai oleh Belanda. Dengan jatuhnya Bone,
perlawanan rakyat semakin melemah. Namun, pertempuran-pertempuran kecil
masih terus berlangsung hingga awal abad ke-20.
5. Perlawanan Rakyat Banjar (1859 – 1863)
a. Latar Belakang Terjadinya Perlawanan
1) Belanda memaksakan monopoli perdagangan di Kerajaan Banjar. Dalam
monopoli perdagangan lada, rotan, damar, dan hasil-hasil tambang seperti
emas dan intan, Belanda bersaing dengan saudagar-saudagar Banjar dan
para bangsawan Banjar. Dari persaingan menjadi permusuhan karena
Belanda berusaha menguasai beberapa wilayah Kerajaan Banjar.
2) Pemerintah kolonial Belanda ikut mencampuri urusan dalam Kraton
terutama dalam pergantian sultan-sultan kerajaan Banjar. Misalnya Belanda
mengangkat Pangeran Tamjidillah menjadi sultan pada tahun 1857. Hak
Pangeran Hidayat menjadi sultan disisihkan. Padahal yang berhak menjadi
sultan yang sebenarnya adalah Pangeran Hidayat sendiri.
3) Pemerintah kolonial Belanda mengumumkan bahwa Kasultanan
Banjarmasin akan dihapuskan.
b. Jalannya Perlawanan
Kendatipun Pangeran Hidayat tidak menjadi
Sultan Kerajaan Banjar, tetapi ia telah mempunyai
kedudukan sebagai Mangkubumi. Pengaruhnya
cukup besar di kalangan rakyatnya. Campur tangan
Belanda di kraton makin besar dan kedudukan
Pangeran Hidayat sebagai Mangkubumi makin
terdesak. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk
mengadakan perlawanan bersama sepupunya Pangeran
Antasari.
Pangeran Antasari seorang pemimpin perlawanan
yang amat anti Belanda. Ia bersama pengikutnya, Kyai
Demang Leman, Haji Nasrun, Haji Buyasin dan Haji
Langlang, berhasil menghimpun kekuatan sebanyak 3000 orang. Ia bersama
pasukannya menyerang pos-pos Belanda di Martapura dan Pengaron pada tanggal
28 April 1859. Pertempuran heat terjadi di salah satu pusat kekuatan Pangeran
Antasari, yaitu Benteng Gunung Lawak. Belanda berhasil menduduki Benteng
Gunung Lawak (27 September 1859).
Niat Belanda yang sebenarnya adalah menghapuskan Kerajaan Banjar. Hal ini
baru terlaksana setelah Kolonel Andresen dapat menurunkan Sultan Tamjidillah,
yang dianggapnya sebagai penyebab kericuhan, sedangkan Pangeran Hidayat sebagai
Mangkubumi telah meninggalkan kraton. Belanda menghapuskan kerajaan Banjar
pada tanggal 11 Juni 1860 dan dimasukkan ke dalam kekuasaan Belanda.
Pangeran Hidayat terlibat dalam pertempuran yang hebat melawan Belanda
pada tanggal 16 Juni 1860 di Anbawang. Adanya ketidakseimbangan dalam
persenjataan dan pasukan yang kurang terlatih, menyebabkan Pangeran Hidayat
harus mengundurkan diri. Belanda menggunakan siasat memberikan kedudukan
dan jaminan hidup kepada setiap orang yang bersedia menghentikan perlawanan
dengan menyerahkan diri kepada Belanda. Ternyata siasat ini berhasil, yaitu dengan
menyerahkan Kyai Demang Leman pada tanggal 2 Oktober 1861.
c. Akhir Perlawanan
Penyerahan Kyai Demang Leman
mempengaruhi kekuatan pasukan
Pangeran Antasari. Beberapa bulan
kemudian Pangeran Hidayat dapat
ditangkap, akhirnya diasingkan ke Jawa
pada tanggal 3 Februari 1862. Rakyat
Banjar memberikan kepercayaan
sepenuhnya kepada Pangeran Antasari
dengan mengangkatnya sebagai
pemimpin tertinggi agama dengan gelar
Panembahan Amirudin Khalifatul
Mukminin pada tanggal 14 Maret 1862.
Perlawanan diteruskan bersama-sama
pemimpin yang lain, seperti Pangeran Miradipa, Tumenggung Mancanegara,
Tumenggung Surapati dan Gusti Umar. Pertahanan pasukan Pangeran Antasari
ditempatkan di Hulu Teweh. Di sinilah Pangeran Antasari meninggal dunia pada
tanggal 11 Oktober 1862. Perlawanan rakyat Banjar terus berlangsung dipimpin
oleh putera Pangeran Antasari, Pangeran Muhamad Seman bersama pejuang-pejuang
Banjar lainnya.
perlawanan rakyat indonesia terhadap pemerintahan belanda 9out of 10 based on 10 ratings. 9 user reviews.
Terimakasih telah membaca artikel: perlawanan rakyat indonesia terhadap pemerintahan belanda di Handikas's blog
-SERTAKAN SUMBER ARTIKEL http://handikap60.blogspot.com/2012/11/perlawanan-rakyat-indonesia-terhadap.html KETIKA MENGCOPY !!!
- bagikan artikel tersebut melalui facebook dan twitter
- update artikel di blog ini dengan cara like fanpage facebook dan follow twitter kami
- baca artikel seputar pendidikan yang lain di blog ini

BACA JUGA !!!!

3 comments:

  1. informasi dalam blog ini sangat bermanfaat, isinya sangat inovatif dan kreatif. saya baru menemukan jawaban dari unek-unek yang selama ini membuat saya bingung. makasih ya informasinya!!

    ReplyDelete
  2. Contoh kegagalannya apa?

    ReplyDelete
  3. Sebab sebab khusus dan umum dari setiap perlawanan itu apa yaa?

    ReplyDelete